ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC), Kamis (2/7/2026), berada di kisaran USD 60.216,50 atau sekitar Rp1,08 miliar dengan kurs Rp17.907. Dalam 24 jam terakhir, BTC mencatat kenaikan 2,94%, sementara kapitalisasi pasar mencapai USD 1,2 triliun.
Pergerakan ini menjadi sinyal positif setelah sebelumnya Bitcoin sempat tertekan hingga level terendah tahun ini di USD 57.735. Kenaikan harga kali ini didorong oleh beberapa faktor utama, termasuk penguatan harga emas yang memiliki korelasi kuat dengan Bitcoin (sekitar 68,5%), serta berkurangnya tekanan jual setelah Ketua The Fed mengisyaratkan pendinginan risiko inflasi.
Pergerakan Bitcoin pada 2 Juli 2026 menunjukkan pemulihan yang cukup solid ke atas USD 60.000. Namun tren jangka pendek masih penuh ketidakpastian. Investor dan trader perlu mencermati level resistance dan support kunci untuk menentukan arah pergerakan berikutnya, sambil memperhatikan faktor eksternal seperti kebijakan moneter dan dinamika pasar emas.
Baca Juga: Brasil Perluas Strategi Cadangan Bitcoin
Dari sisi teknikal, resistance terdekat berada di level USD 60.366,8. Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas level ini, peluang untuk melanjutkan kenaikan semakin terbuka. Sebaliknya, support penting tetap berada di USD 57.735, yang menjadi acuan jika tekanan jual kembali meningkat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa volatilitas pasar kripto masih tinggi. Pergerakan harga sensitif terhadap kebijakan suku bunga, kondisi makro global, dan sentimen investor.
Risiko tetap perlu diperhatikan. Volatilitas pasar kripto membuat harga Bitcoin rentan terhadap kapitulasi jika tekanan jual kembali menguat. Namun, keterbatasan pasokan Bitcoin yang hanya 21 juta BTC tetap menjadi fondasi nilai jangka panjang, sehingga setiap koreksi sering dipandang sebagai peluang akumulasi oleh investor besar. Dengan kapitalisasi pasar yang stabil di atas USD 1 triliun, Bitcoin masih mempertahankan posisinya sebagai aset kripto utama dan indikator sentimen pasar digital global.

