Simit, Roti Wijen Turki Jadi Camilan Favorit Fans Piala Dunia

Simit dari Turki

ASIAWORLDVIEW Simit menjadi salah satu makanan paling populer yang dinikmati para penggemar sepak bola di Türkiye saat menuju stadion untuk menyaksikan pertandingan. Simit adalah roti berbentuk cincin yang ditaburi biji wijen, dikenal sebagai “bagel Turki” karena teksturnya yang renyah di luar dan lembut di dalam.

Simit terbuat dari tepung terigu, air, ragi, dan garam, kemudian dibentuk melingkar. Namun, keistimewaannya adalah sebelum dipanggang, adonan tersebut dicelupkan ke dalam molase anggur atau pekmez, sari buah anggur yang direduksi. Proses ini memberikan tiga efek sekaligus: memberikan warna cokelat keemasan yang menggoda, menambah rasa manis yang sangat halus, dan membantu biji wijen menempel dengan sempurna di seluruh permukaan, mengutip Al Jazeera, Senin (29/6/2026).

Setelah itu, simit dipanggang hingga matang, menghasilkan kulit luar yang sangat renyah dan garing, sementara bagian dalamnya tetap lembut, hangat, dan kenyal—sebuah kontras tekstur yang membuat setiap gigitan terasa memuaskan. Aroma wijen yang terpanggang dan sedikit karamel dari pekmez menciptakan pengalaman sensorik yang langsung membangkitkan selera.

Menurut UEFA, popularitasnya di kalangan penonton bola tidak lepas dari sifatnya yang praktis, murah, dan mudah ditemukan di hampir setiap sudut kota, mulai dari pedagang kaki lima hingga toko roti tradisional. Sebagai bagian dari budaya kuliner jalanan, simit bukan hanya sekadar makanan ringan, tetapi juga simbol kebersamaan dan identitas lokal.

Baca Juga: Koleksi Retro Country Ringer Tees, Sambut Kemeriahaan Piala Dunia

Menikmati simit sambil berjalan menuju stadion menciptakan pengalaman khas yang menghubungkan tradisi kuliner dengan semangat olahraga. Momen ini menjadikannya bagian integral dari atmosfer pertandingan sepak bola di Türkiye.

Simit memiliki akar sejarah yang sangat kuat, dimulai sejak abad ke-14 di wilayah Anatolia, Turki. Catatan arsip menunjukkan bahwa pada tahun 1525, simit sudah diproduksi secara massal di Istanbul, menjadikannya salah satu makanan ringan tertua yang masih bertahan hingga kini.

Pada masa Kesultanan Utsmaniyah, simit merupakan makanan istimewa yang disajikan di istana. Konon, pada masa pemerintahan Sultan Suleiman the Magnificent, simit pertama kali dibuat di dapur istana dan menjadi hidangan favorit kalangan bangsawan. Bahkan, selama bulan Ramadan, Sultan sering memberikan simit sebagai hadiah kepada para prajuritnya, yang secara simbolis mengangkat status simit dari sekadar roti menjadi makanan yang penuh makna dan kehormatan.

Pada abad ke-17, simit mulai menjangkau masyarakat luas. Catatan dari pengelana Ottoman terkenal, Evliya Celebi, menyebutkan bahwa saat itu sudah ada sekitar 300 penjual simit dan 70 toko roti di Istanbul saja. Transformasi dari makanan istana menjadi makanan rakyat inilah yang membuat simit memiliki daya tarik lintas kelas, dari sultan hingga kuli pasar, semua orang bisa menikmatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *