ASIAWORLDVIEW – Di berbagai industri, perusahaan di Indonesia mulai beralih dari tahap uji coba AI menuju penerapan praktis. Namun, meningkatkan skala penerapan Artificial Intelligence atau AI bukan sekadar tantangan teknologi. Ini menuntut organisasi untuk meninjau kembali cara kerja mereka, membekali tenaga kerja dengan keterampilan serta pola pikir yang tepat untuk mendukung adopsi AI.
Budiono, Managing Director, Accenture AI & Data dalam HP Elevate 2026, Kamis (25/6/2026) menjelaskan secara rinci mengenai perbedaan Generative AI dan AI Agent (atau Agentic AI). Menurutnya, dua tahap evolusi kecerdasan buatan dengan peran yang sangat berbeda.
“Perbedaan mendasarnya terletak pada fungsi dan tingkat otonomi, Generative AI berfokus pada pembuatan konten, sementara AI Agent dirancang untuk mengeksekusi tugas secara mandiri untuk mencapai tujuan tertentu,” ia mengatakan.
Secara lebih rinci, Generative AI adalah teknologi yang menghasilkan konten baru—seperti teks, gambar, kode, atau ringkasan—berdasarkan pola yang dipelajari dari data dalam jumlah besar. Cara kerjanya adalah dengan merespons perintah atau prompt dari pengguna.
Ia mengibaratkannya sebagai “rekan konsultasi yang sangat baik” yang mampu menjawab pertanyaan dan memberikan ide. Namun, kemampuannya terbatas pada apa yang diperintahkan dalam satu waktu. tidak memiliki pemahaman inheren tentang tujuan di luar perintah yang diberikan. Contoh penggunaannya adalah membuat draf email, mencari informasi, membuat konten pemasaran, atau menulis cuplikan kode.
Baca Juga: Teknologi Ubah Cara Kerja, HP Hadirkan Perangkat dengan Fitur AI
“AI Agent (Agentic AI) bergerak selangkah lebih maju. HP mendefinisikannya sebagai AI yang secara otonom mengejar tujuan melalui penalaran dan pengambilan keputusan multi-langkah, tanpa memerlukan arahan manusia secara terus-menerus. Jika Generative AI adalah rekan konsultasi,” ia menambahkan.
AI Agent seolah sebagai bawahan yang sangat kompeten yang diberikan tugas untuk diselesaikan. AI Agent tidak hanya membuat konten, tetapi juga mengeksekusi tugas, merencanakan, mengevaluasi, mengambil tindakan, dan menyesuaikan diri berdasarkan hasil yang dicapai.
“AI Agent dapat diberikan perintah untuk menyelidiki kampanye pesaing terbaru, maka ia akan secara mandiri mengunjungi situs web terkait, mengumpulkan dan menganalisis informasi, serta menyusun laporan ringkas—semua tanpa intervensi manual yang rumit,” pungkasnya.
Perbedaan utama lainnya terletak pada alur kerja dan tingkat otonomi. Generative AI beroperasi dalam mode respons-perintah tunggal atau berulang, di mana setiap output membutuhkan perintah baru dari manusia. Sebaliknya, AI Agent menggunakan alur kerja penalaran, perencanaan, dan tindakan multi-langkah, serta dapat beroperasi secara independen dalam parameter yang telah ditentukan. Dengan kata lain, Generative AI menciptakan, sedangkan AI Agent bertindak.
“Dalam dunia kerja, ini berarti AI Agent tidak hanya membantu tugas-tugas sederhana, tetapi juga dapat memberikan rekomendasi keputusan berdasarkan data dan konteks yang ada, serta mengoordinasikan berbagai sistem AI di banyak perangkat secara bersamaan untukmerancang ulang infrastruktur teknologi dengan solusi dan perangkat yang memungkinkan implementasi AI secara aman dan mulus,” pungkasnya.
