Keberlanjutan Bukan Sekadar Tren, Tapi Strategi Survival

ndrea Geremicca, Director General dari European Institute of Innovation for Sustainability (EIIS)

ASIAWORLDVIEW – Sustainability atau keberlanjutan bukan sekadar isu etis atau filantropis, melainkan kebutuhan mendasar untuk bertahan hidup. Pola ini dilakukan agar sistem ekonomi, sosial, dan lingkungan dapat terus berlangsung, manusia harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.

Asia World View mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Andrea Geremicca, Director General dari European Institute of Innovation for Sustainability (EIIS). Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa keberlanjutan adalah fondasi bagi kelangsungan hidup sistem ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam jangka panjang.

“Keberlanjutan berarti kemampuan untuk bertahan lama, bukan hanya sebagai konsep ideal, melainkan sebagai kebutuhan nyata agar masyarakat dan negara dapat menghadapi tantangan global yang semakin kompleks,” ia mengatakan.

Ia menegaskan bahwa keberlanjutan tidak bisa dilepaskan dari inovasi. Hal ini karena hanya dengan beradaptasi dan berubah secara cepat, sistem yang ada dapat tetap relevan dan mampu menghadapi tekanan eksternal seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, maupun ketidakstabilan sosial.

Baca Juga: Kolaborasi Ferrero dan EIIS: Generasi Kini Harus Bertindak, Keberlanjutan Tanggung Jawab Kita

Tanaman hazelnut.
Tanaman hazelnut.

Baginya, keberlanjutan adalah bagian dari naluri bertahan hidup manusia dan masyarakat, sehingga harus dipandang sebagai strategi survival. Ia menyoroti bahwa ancaman global seperti krisis iklim dan ketidakpastian geopolitik dapat merusak struktur ekonomi dan keamanan dunia, sehingga keberlanjutan menjadi cara untuk memastikan masyarakat tetap mampu beradaptasi dan berkembang.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, di mana akademisi, sektor swasta, dan profesional lapangan harus bekerja bersama untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. Menurutnya, inovasi tidak akan lahir dari satu pihak saja, melainkan dari sinergi berbagai perspektif yang saling melengkapi.

Ia menggambarkan salah satu contoh. Italia saat ini menghadapi masalah serius terkait jaringan penyedia hazelnut, yang turun hingga 60%. Bahkan di Turki, sebagai pemasok utama dunia, harga hazelnut meningkat tajam tahun lalu akibat perubahan iklim dan kondisi buah yang memburuk.

“Menanggapi tantangan ini, Ferrero mengembangkan sebuah program khusus untuk mendukung jaringan penyedia hazelnut. Program tersebut dibangun dengan pendekatan kolaboratif, melibatkan para petani dan agronomis, karena keberhasilan hanya dapat dicapai jika semua pihak yang terlibat bekerja bersama,” ia menambahkan.

Ferrero kemudian meluncurkan program agronomi hazelnut yang dirancang bersama agronomis internal dan para petani. Inisiatif ini tidak mudah karena harus menggabungkan tiga jenis profesionalitas yang berbeda: akademisi, sektor swasta, dan praktisi lapangan.

Biasanya, kolaborasi hanya terjadi antara akademisi dan sektor swasta, namun untuk pertama kalinya di Italia, profesional agronomi juga dilibatkan secara langsung. Hasilnya dianggap luar biasa, dengan partisipasi lebih dari 1.000 agronomis yang terlibat dalam program tersebut.

“Langkah ini menunjukkan bahwa keberlanjutan rantai pasok hazelnut tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada kerja sama lintas sektor untuk menghadapi dampak perubahan iklim dan menjaga kualitas hasil panen. Dengan melibatkan berbagai pihak, Ferrero berupaya memastikan bahwa pasokan hazelnut tetap stabil, sekaligus mendukung ketahanan ekonomi para petani dan keberlanjutan industri makanan berbasis kacang ini,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *