ASIAWORLDVIEW – Keberlanjutan atau sustainability bukan lagi sekadar janji untuk generasi mendatang, melainkan tanggung jawab nyata generasi saat ini. Hal ini mencerminkan perubahan paradigma besar dalam cara kita memahami isu lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Hal itu diungkapkan Andrea Geremicca, Director General dari European Institute of Innovation for Sustainability (EIIS) saat wawancara eksklusif dengan Asia World View, Selasa (23/6/2026). Ia menekankan bahwa keterlibatannya dalam kolaborasi dengan Ferrero terkait berbagai inisiatif keberlanjutan berangkat dari pemahaman mendalam bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar janji untuk generasi mendatang, melainkan tanggung jawab nyata generasi saat ini.
“Selama beberapa dekade, keberlanjutan sering diposisikan sebagai komitmen moral untuk memastikan bahwa anak-anak di masa depan masih memiliki kesempatan yang sama dalam membangun kehidupan yang layak. Namun, realitas krisis iklim, degradasi lingkungan, dan ketidaksetaraan sosial yang semakin nyata menunjukkan bahwa kita tidak bisa lagi menunda tindakan. Generasi sekarang adalah generasi yang harus menghadapi dampak langsung dari kerusakan ekosistem, polusi, dan ketidakstabilan ekonomi global. Oleh karena itu, keberlanjutan menjadi kewajiban yang harus dijalankan segera, bukan sekadar janji yang diwariskan,” ia mengatakan.
Baca Juga: Industri Otomotif di Indonesia Alami Kenaikan, Nilai Investasi Rp31,7 triliun
Langkah keberlanjutan ini, tambahnya, mengembangkan ekonomi sambil memastikan anak-anak di masa depan tetap memiliki kesempatan yang sama sudah tidak relevan. Andrea menegaskan bahwa kita adalah generasi masa depan itu sendiri, sehingga tidak ada pilihan lain selain bertindak sekarang.
“Kolaborasi dengan Ferrero diarahkan untuk memastikan bahwa praktik bisnis perusahaan makanan global tersebut benar-benar berkontribusi pada keberlanjutan, baik dari sisi lingkungan maupun sosial,” ia menjelaskan.
Andrea menyoroti bahwa generasi muda tidak boleh hanya dianggap sebagai efek samping atau penerima manfaat di masa depan, melainkan harus duduk bersama di meja pengambilan keputusan. Dalam kerja sama dengan Ferrero, hal ini berarti melibatkan perspektif anak muda dalam merancang strategi keberlanjutan, mulai dari rantai pasok kakao dan hazelnut hingga inovasi kemasan ramah lingkungan.
“Kesejahteraan bukanlah isu moral atau etika semata, melainkan satu-satunya tujuan yang harus dipahami manusia, perusahaan, maupun pemerintah: kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang. Sama seperti tubuh manusia dan alam semesta yang terus beradaptasi, Ferrero menerima perubahan sebagai bagian dari strategi bertahan hidup,” ia menambahkan.
Kolaborasi EIIS dengan Ferrero mencakup penguatan rantai pasok berkelanjutan, pengurangan jejak karbon, serta penerapan inovasi berbasis sirkular. Andrea menegaskan bahwa keberlanjutan adalah jalan menuju kesejahteraan jangka panjang, bukan sekadar tren.
Dengan melibatkan komunitas lokal, memperhatikan kesejahteraan petani, dan mengintegrasikan teknologi hijau, Ferrero diharapkan mampu menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan besar dapat menggabungkan profit dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
“Keberlanjutan adalah satu-satunya cara agar manusia, perusahaan, dan negara dapat bertahan, sehingga perubahan harus diterima sebagai bagian dari perjalanan menuju masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
