ASIAWORLDVIEW – Kondisi Bekasi, Jawa Barat, saat ini menghadapi ancaman serius dari polusi, terutama akibat keberadaan TPST Bantargebang yang menjadi salah satu sumber emisi metana terbesar di dunia. Menurut rilisan UCLA Emmett Institute melalui STOP Methane Project pada April 2026, Bantargebang menempati peringkat kedua global sebagai penghasil gas metana, dengan data satelit Carbon Mapper menunjukkan pelepasan lebih dari enam ton metana setiap jamnya.
Selama lebih dari tiga dekade, Bantargebang telah mengalami ketimpangan ekologis dan ketidakadilan spasial. Bau yang tak sedap, air dan udara pun tercemar.
“Gunungan sampah yang menjulang, warga lokal menyebutnya bulok, tidak hanya menjadi simbol dari krisis lingkungan, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang kompleks.” Dendy Madya, Artery Performa, dikutip dari siaran pers, Minggu (14/6/2026).
Situasi ini sangat mengkhawatirkan karena metana merupakan gas rumah kaca dengan daya pemanasan jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida, sehingga kontribusinya terhadap perubahan iklim sangat besar. Selain itu, konsentrasi metana yang tinggi juga berdampak langsung pada kualitas udara lokal, memperburuk kesehatan masyarakat sekitar, dan meningkatkan risiko penyakit pernapasan.
Baca Juga: Aksi Bersih Sungai Musi, Langkah Nyata Kurangi Polusi Sampah
Posisi Bekasi yang dikepung berbagai sumber polusi, keberadaan Bantargebang memperparah kondisi lingkungan dan menuntut adanya langkah serius dalam pengelolaan sampah, pengendalian emisi, serta penerapan teknologi ramah lingkungan. Tanpa intervensi yang kuat, ancaman ini tidak hanya berdampak pada warga Bekasi, tetapi juga memperburuk krisis iklim global.
Selain TPST Bantargebang, Bekasi juga menghadapi ancaman polusi mematikan dari aktivitas PLTU Babelan milik PT. Cikarang Listrindo. Menurut riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), pembangkit ini tercatat sebagai salah satu kontributor utama emisi PM 2.5 di wilayah Jakarta, dengan tingkat rata-rata paling tinggi dibanding PLTU lain di sekitarnya.
Ironisnya, listrik yang dihasilkan PLTU Babelan hanya dialirkan untuk kebutuhan kawasan industri, sementara masyarakat sekitar harus menanggung dampak buruk polusi udara. Penelitian sosial yang dilakukan Aksi Muda Kolektif pada April–Mei 2025 menunjukkan dominasi penyakit batuk dan ISPA di kalangan warga sekitar, memperlihatkan betapa kesehatan mereka terancam di tengah tekanan ekonomi akibat hilangnya mata pencaharian di ruang hidup yang tercemar.
Ancaman krisis iklim semakin diperparah oleh Kawasan Industri Jababeka yang masih bergantung pada energi kotor, meski sebelumnya berkomitmen menjadi “the first net zero industrial cluster” di Asia Tenggara dalam Indonesia Net Zero Summit 2022. Kenyataan bahwa komitmen tersebut tidak diwujudkan memperlihatkan ketimpangan antara janji dan praktik, sekaligus menegaskan bahwa Bekasi kini menjadi episentrum polusi dan krisis iklim yang menekan kesehatan, ekonomi, dan masa depan lingkungan.
Paparan PM 2.5 sangat berbahaya bagi kesehatan karena partikel halus ini mampu masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan ke aliran darah, memicu gangguan pernapasan, kardiovaskular, hingga penyakit kronis. Dampaknya paling besar dirasakan oleh anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan kondisi kesehatan lemah.
