ASIAWORLDVIEW – Bank of Japan mengumumkan kebijakan suku bunga. Langkah ini memiliki dampak langsung terhadap pasar kripto, khususnya Bitcoin.
Dengan biaya pinjaman yen yang lebih mahal, strategi carry trade yen. Investor meminjam yen berbiaya rendah untuk diinvestasikan ke aset berisiko menjadi kurang menarik. Akibatnya, aliran dana global ke aset berisiko seperti kripto berkurang, menekan likuiditas dan menimbulkan tekanan jual, mengutip NHK, Minggu (14/6/2026).
Kondisi ini membuat harga Bitcoin lebih rentan terhadap volatilitas, karena investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dengan kata lain, kebijakan moneter BoJ tidak hanya memengaruhi pasar domestik Jepang, tetapi juga menciptakan efek rambatan ke pasar global, termasuk ekosistem kripto yang sangat bergantung pada arus modal internasional.
Baca Juga: RUU Pajak Kripto Jepang Buka Peluang Bullish XRP
Strategi yen carry trade telah lama menjadi salah satu pendorong likuiditas global, karena suku bunga Jepang yang sangat rendah membuat yen murah untuk dipinjam dan kemudian diinvestasikan ke aset berimbal hasil tinggi, termasuk Bitcoin. Namun, ketika Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga, daya tarik carry trade berkurang drastis.
Investor yang sebelumnya memanfaatkan pinjaman yen untuk masuk ke pasar kripto mulai melepas posisi mereka, sehingga menimbulkan tekanan jual pada Bitcoin. Hal ini diperparah oleh pengetatan likuiditas global, di mana kenaikan suku bunga BoJ meski kecil, misalnya 25 basis poin ke 0,75%, dianggap sebagai perubahan struktural yang mengurangi ketersediaan dana internasional.
Selain itu, perubahan sentimen pasar juga terlihat jelas: data on-chain menunjukkan peningkatan arus BTC ke bursa, menandakan persiapan penjualan, sementara pasar derivatif mencatat penurunan funding rate hingga mendekati negatif, mencerminkan dominasi posisi short dan pergeseran ke arah risk-off.
