ASIAWORLDVIEW – Pameran bertajuk “INSIDE & OUTSIDE” menghadirkan sebuah ruang reflektif yang intim, tempat karya-karya terbaru seniman Jepang NEUNOA berdialog secara mendalam dengan praktik kolaboratif bersama “&T”. Pameran ini menjelma sebagai sebuah medan kontemplasi visual yang mengeksplorasi hubungan dualistik antara ruang dalam dan luar, bukan sekadar batas fisik dinding atau kanvas, melainkan juga lapisan batin manusia.
Pameran in juga meghasilkan identitas personal, serta ruang-ruang ingatan yang terbentuk dari akar budaya dan perjumpaan lintas bangsa. NEUNOA, yang selama ini dikenal dengan sapuan warna-warna emosional yang merespons keheningan dan kekosongan, mempertemukan bahasa lukisannya yang cair dan introspektif dengan elemen bordir yang dihadirkan oleh “&T”.
“Lukisan bermula dari ketidaksengajaan emosi, lalu perlahan ditransformasi oleh jahitan tangan yang hadir sebagai meditasi visual, merajut memori personal dan kolektif ke dalam satu bidang gambar,” sebut sang seniman dalam konferensi pers di Jakarta.
Baca Juga: Menkeu Teuku Riefky: Seni Bukan Sekadar Budaya, tapi Pilar Pembangunan Strategis

Kanvas-kanvas NEUNOA yang didominasi palet warna sunyi, biru kelabu, krem tanah, dan putih susu. Karya yang tidak berusaha berteriak, melainkan berbisik dengan keanggunan puitis yang khas Jepang, mengundang mata untuk tenggelam dalam gradasi warnanya yang halus bagai kabut pagi.
Benang-benang yang ditusuk dan dijahit dengan ritme repetitif itu tak sekadar menjadi aksen dekoratif, melainkan tumbuh sebagai narasi paralel. Membentuk garis-garis memori yang menyulam fragmen identitas, menjahit celah antara yang kasat mata dan yang tersembunyi, antara permukaan dan kedalaman.
Dialog antara cat dan benang ini menciptakan tekstur hibrida yang seolah mengajak pengunjung untuk menyentuh batas antara tradisi dan kontemporer, antara budaya Jepang yang melekat dalam gestur artistik NEUNOA. Tampak jelas pula praktik artisanal yang mungkin berasal dari konteks kultural berbeda, merayakan koneksi antarbudaya tanpa kehilangan keintiman masing-masing.
Setiap tusukan benang merekam waktu dan kesabaran, membentuk relief-relief kecil yang menangkap cahaya dan bayangan secara berbeda sepanjang hari. Karya-karya ini terus bernapas dalam perubahan.
Pendekatan visual yang memadukan elemen lukisan, benang, dan memori budaya ini melahirkan pengalaman yang sangat reflektif. Masyarakat diundang untuk berhenti sejenak, menelusuri setiap detail sambungan benang yang menjembatani figur-figur samar pada kanvas, merasakan ketegangan antara “inside” sebagai lanskap psikologis sang seniman dan “outside” sebagai jejak dunia luar yang membentuknya.
Kemudian, menjadikan pameran ini bukan sekadar panggung pajang, melainkan sebuah perjalanan kontemplatif yang merayakan kerapuhan, ketahanan, dan keindahan. Semua itu lahir dari pertemuan dua medium yang saling melengkapi.
