ASIAWORLDVIEW – Mid-autumn Festival atau Festival Tengah Musim Gugur dirayakan oleh banyak orang di Asia. Selain itu, Warga Tionghoa dan keturunannya di seluruh dunia juga menyambut momen penting ini dengan meriah.
Mengutip dari China Daily, festival ini merupakan hari libur kedua yang paling penting setelah Tahun Baru Imlek, dengan sejarah yang berakar sejak 3.000 tahun yang lalu, ketika para kaisar China memuja bulan untuk panen yang melimpah.
Festival yang juga dikenal sebagai Festival Kue Bulan atau Zhong Qiu Jie ini merupakan salah satu tradisi budaya Tionghoa terbesar setelah Tahun Baru Imlek. Dirayakan setiap tanggal 15 bulan ke-8 dalam kalender lunar. Tahun ini, jatuh ada hari ini, Senin (6/10/2025).
Pada Mid-autumn Festival, masyarakat juga percaya bahwa bulan berada pada titik paling terang dan terbesar, bertepatan dengan musim panen di tengah musim gugur. Festival ini juga erat kaitannya dengan legenda Chang’e, dewi bulan.
Baca Juga: Teh Oolong dan Melati: Aroma Kehangatan dalam Perayaan Mid-Autumn Festival
Chang’e, istri dari pemanah hebat Hou Yi, yang diberi ramuan keabadian sebagai hadiah setelah menyelamatkan dunia dari sepuluh matahari yang membakar bumi. Namun, demi melindungi ramuan tersebut dari orang jahat, Chang’e meminumnya dan terbang ke bulan, di mana ia tinggal selamanya sebagai dewi. Kisahnya menjadi simbol pengorbanan, cinta, dan kerinduan, yang dirayakan setiap tahun saat bulan purnama bersinar terang.
Di berbagai kota dengan komunitas Tionghoa besar seperti Jakarta, Singkawang, dan Medan, perayaan ini biasanya dimeriahkan dengan festival lentera, pertunjukan budaya, dan bazar kuliner khas. Sementara, di sebagian wilayah China hingga Hong Kong, digelar pawai lentera. Ini menjadi tradisi yang meriah.
Saat malam tiba, anak-anak dan keluarga beramai-ramai keluar ke jalan-jalan membawa lentera berwarna-warni berbentuk kelinci, ikan, naga, dan makhluk mitologi lainnya, yang melambangkan kegembiraan, kemakmuran, dan warisan budaya. Lentera-lentera ini, yang sering dibuat secara manual atau dirancang dengan detail rumit, menerangi malam dengan pemandangan yang memukau, menggabungkan keindahan seni dengan kemeriahan festival.
Selain itu, menjadi momen penting untuk berkumpul bersama keluarga, menyalakan lentera, dan menikmati kue bulan sebagai simbol kebersamaan dan keberuntungan. Mereka juga mengucapkan syukur atas panen dan kebersamaan.
