ASIAWORLDVIEW – Tempe atau tempeh adalah makanan hasil fermentasi kedelai yang berasal dari Indonesia, dikategorikan sebagai pangan nabati utuh dengan kandungan nutrisi yang sangat baik. Proses fermentasinya menggunakan kapang Rhizopus oligosporus untuk mengikat biji kedelai menjadi padatan berwarna putih dengan aroma khas gurih seperti kacang.
Mengutip dari berbagai sumber, Jumat (29/5/2026), kandungan protein tempe membantu pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh, sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga mendukung pola makan sehat. Selain itu, tempe dikenal ramah bagi jantung karena rendah lemak jenuh.
Tempe juga bebas kolesterol, dan mengandung isoflavon yang terbukti menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) serta trigliserida. Dari sisi metabolisme, kombinasi protein, serat, dan isoflavon dalam tempe juga berperan penting dalam menstabilkan gula darah dengan memperlambat penyerapan glukosa, sehingga baik untuk penderita diabetes maupun mereka yang ingin menjaga kadar gula tetap seimbang.
Kesehatan pencernaan pun mendapat manfaat besar dari konsumsi tempe. Serat yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai prebiotik. Hal itu mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus, melancarkan sistem pencernaan, dan menjaga kesehatan usus besar.
Baca Juga: Cegah Super Flu dengan Imunitas Kuat, Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang
Proses fermentasi dalam pembuatan tempe membuatnya lebih mudah dicerna dibandingkan kedelai mentah, karena protein dan lemak kompleks telah diurai, senyawa antinutrisi seperti asam fitat berkurang, serta gula penyebab kembung (rafinosa dan stakiosa) dipecah. Selain itu, tempe kaya akan antioksidan yang melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, serta mengandung kalsium, magnesium, dan fosfor yang penting untuk menjaga kepadatan tulang.
Tidak hanya itu, tempe juga mendukung fungsi otak berkat kandungan protein, lemak baik, dan vitamin B kompleks yang berperan dalam menjaga kesehatan sistem saraf. Isoflavon dan senyawa bioaktif lain di dalamnya bahkan memiliki sifat antikanker, serta membantu mengurangi gejala menopause seperti hot flashes melalui kandungan fitoestrogen. Ditambah lagi, tempe menyediakan zat besi, kalium, dan seng (zinc) yang vital untuk berbagai fungsi tubuh.
Prinsip utama dalam memasak tempe adalah menjaga kandungan gizinya tetap optimal. Tempe sebaiknya diolah dengan cara sederhana seperti dikukus, dipanggang, atau ditumis dengan sedikit minyak agar kandungan proteinnya tidak rusak dan lemak tambahan tetap rendah.
Penggunaan bumbu alami seperti bawang putih, jahe, atau kunyit dapat meningkatkan cita rasa sekaligus menambah manfaat kesehatan. Hindari menggoreng tempe terlalu lama karena dapat meningkatkan kadar lemak jenuh. Tempe juga bisa dijadikan bahan dasar berbagai olahan kreatif seperti burger nabati, sate tempe, atau tempe bacem, sehingga tetap lezat sekaligus sehat.
