Rupiah Kian Rapuh di Tengah Stabilitas Global, Sentuh Rp17.864 per Dolar AS

Mata uang Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang fluktuatif dan secara keseluruhan masih berada dalam tren pelemahan. Bahkan menyentuh rekor terendah baru. berdasarkan data kurs transaksi yang dirilis Bank Indonesia (BI), pada hari Jumat, (29/5/2026) bank sentral menetapkan kurs jual dolar AS di angka Rp17.877,94, sementara kurs beli berada di level Rp17.700,06.

Terdapat selisih (spread) yang cukup lebar yaitu sebesar Rp177,88, yang mengindikasikan tingginya volatilitas atau ketidakpastian di pasar valuta asing (valas). Pelemahan ini terjadi setelah pasar domestik libur dua hari dalam rangka perayaan Iduladha. Diperkirakan bahwa akumulasi permintaan dolar AS selama masa libur menjadi salah satu pemicu tekanan jual yang besar di awal perdagangan, sehingga rupiah langsung dibuka melemah 0,02% di level Rp17.793 sebelum akhirnya terus tertekan hingga menyentuh level Rp17.843.

Di awal perdagangan, rupiah sempat dibuka di level Rp17.836 per dolar AS atau menguat tipis 9 poin (0,05%) berdasarkan data Bloomberg, sementara sumber lain mencatat penguatan yang lebih besar yaitu 32 poin (0,18%) ke level Rp17.814. Namun, kenaikan ini tidak bertahan lama. Tekanan jual kembali mendominasi sehingga rupiah terpantau melemah ke level yang lebih dalam. Menjelang siang, rupiah bahkan sempat melampaui level Rp17.860, terdepresiasi 0,11% ke posisi Rp17.864 per dolar AS. Angka-angka ini memperpanjang rekor-rekor baru yang sudah tercipta sebelumnya, di mana pada tanggal 26 Mei 2026 lalu, rupiah sudah mencatatkan level penutupan terlemah sepanjang masa di Rp17.775.

Baca Juga: Rupiah Rp17.833 per USD, Jadi Mata Uang Paling Lemah di Asia

Peristiwa yang sangat menonjol adalah menembusnya level psikologis baru terhadap mata uang negara tetangga. Rupiah untuk pertama kalinya dalam sejarah melemah hingga menyentuh level Rp14.000 per dolar Singapura (SGD) dan juga Rp4.500 per ringgit Malaysia (MYR). Sepanjang tahun 2026 hingga saat itu, rupiah tercatat sudah terdepresiasi sekitar 7,97% terhadap dolar Singapura dan sekitar 9,91% terhadap ringgit Malaysia.

Tekanan yang luar biasa besar pada rupiah ini terjadi di tengah kondisi eksternal yang relatif stabil. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia justru hanya bergerak datar di kisaran 99,03, dan sejumlah mata uang Asia lain seperti baht Thailand, peso Filipina, dan yuan China justru menguat terhadap dolar AS. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor internal atau sentimen terhadap kondisi domestik Indonesia memegang peranan besar dalam pelemahan rupiah.

Pasar disebut menyoroti kombinasi tekanan ekonomi global, arah kebijakan pemerintah yang dinilai belum jelas kredibilitasnya, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar untuk menopang berbagai program prioritas. Selain itu, kebijakan pemerintah yang berusaha menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) tetap rendah di tengah lonjakan harga minyak dunia juga disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang membebani nilai tukar.

Menghadapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada pertengahan Mei 2026. Kenaikan ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar dan bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, kebijakan tersebut terbukti hanya mampu menahan pelemahan dalam waktu yang sangat singkat. Rupiah sempat menguat selama dua hari setelah pengumuman tersebut, namun tekanan kembali muncul dan bahkan semakin kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *