ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin atau BTC hari ini, Jumat (29/5/2026), berada di kisaran USD 73.382,90 atau sekitar Rp 1,30 miliar dengan kurs acuan Rp 17.820 per USD. Dalam 24 jam terakhir, pergerakan harga menunjukkan penurunan sekitar 1,34%–1,76%, sehingga menandakan adanya tekanan jual yang cukup kuat di pasar kripto.
Kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini tercatat sebesar USD 1,47 triliun, tetap menjadikannya aset digital terbesar. Namun tren pelemahan ini memperlihatkan bahwa investor sedang melakukan aksi ambil untung setelah reli panjang sebelumnya.
Pelemahan harga Bitcoin tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan teknikal. Aksi ambil untung investor menjadi pemicu utama. Banyak pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan setelah harga sempat menembus level psikologis penting.
Baca Juga: Aksi Jual Massal Guncang Pasar Kripto, ETF BlackRock Jadi Sorotan
Selain itu, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut memperburuk sentimen global. Serangan udara AS ke fasilitas Iran dan balasan Iran ke pangkalan militer AS meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga minyak dunia. Lonjakan harga minyak ini membuat pasar lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk kripto, sehingga tekanan jual semakin besar.
Dari sisi teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) harian Bitcoin berada di level 34,57, mendekati area oversold (30). Kondisi ini biasanya menjadi sinyal bahwa harga sudah terlalu rendah dan berpotensi mengalami rebound, namun juga menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi. Dengan RSI yang mendekati titik balik, pasar kripto saat ini berada dalam fase kritis: apakah akan terjadi pemulihan harga atau justru pelemahan lebih lanjut jika sentimen negatif terus berlanjut.
Secara keseluruhan, kombinasi aksi ambil untung, ketegangan geopolitik, dan indikator teknikal yang melemah menjelaskan mengapa harga Bitcoin hari ini berada dalam tren penurunan. Meski demikian, volatilitas tinggi tetap membuka peluang bagi pergerakan harga yang cepat, sehingga investor perlu mencermati level support penting dan perkembangan geopolitik global untuk menentukan langkah berikutnya.
