Ancaman Kecanduan Rokok Mengintai Indonesia

Bahaya merokok

ASIAWORLDVIEW – Indonesia saat ini menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang sangat serius, dengan perkiraan 70 juta perokok aktif. Selain itu, meningkatnya penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja serta dewasa muda.

Kondisi ini bukan hanya menciptakan krisis kesehatan akibat risiko penyakit kronis seperti kanker, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan, tetapi juga menimbulkan dampak jangka panjang terhadap produktivitas nasional dan pembangunan ekonomi.

Hal itu diungkapkan Joshua Abrams, Associate Vice President, Global Tobacco Control, Campaign for Tobacco-Free Kids (CTFK) dalam sambutan di pembukaan Indonesia Conference on Tobacco Control (ICTOH) 2026 di Airlangga Shari’a and Entreprenurship Education Center (ASEEC) Tower. Menurutnya, kecanduan rokok memprihatinkan.

“Fakta bahwa banyak perokok mulai merokok di usia yang sangat muda seharusnya menjadi perhatian kita semua. Industri tembakau dan nikotin, kata dia, memahami pentingnya merekrut konsumen muda sejak dini,” ia mengatakan.

Baca Juga: Pakar Kesehatan Bongkar Alasan Orang Sulit Berhenti Merokok

Tingginya prevalensi merokok memperbesar beban biaya kesehatan publik, menurunkan kualitas sumber daya manusia, serta mengancam keberlanjutan tenaga kerja produktif di masa depan. Masalah ini tidak bisa dipandang sekadar sebagai isu gaya hidup, melainkan sebagai ancaman multidimensi yang menuntut kebijakan tegas, edukasi berkelanjutan, dan regulasi ketat untuk melindungi generasi mendatang dari dampak buruk konsumsi tembakau dan produk nikotin alternatif.

Joshua mengingatkan, di balik kemasan yang menarik, kampanye digital, acara yang disponsori, dan program tanggung jawab sosial perusahaan, ada realitas sederhana. Kecanduan tembakau dan nikotin terus membahayakan jutaan orang, terutama anak-anak dan kaum muda.

“Kita semua harus tetap jelas dan bersatu dalam merespons hal ini. Kecanduan tidak boleh pernah dianggap sebagai gaya hidup, dan kecanduan nikotin di kalangan anak-anak tidak boleh dinormalisasi,” ia menambahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *