ASIAWORLDVIEW – Berhenti merokok memang bukan hal yang mudah. Nikotin dalam rokok memiliki sifat adiktif yang kuat, mirip dengan zat seperti heroin atau kokain.
Merokok memiliki banyak dampak negatif bagi kesehatan. Nikotin dan zat beracun dalam rokok dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke dengan merusak pembuluh darah.
“Saat seseorang merokok, nikotin merangsang pelepasan dopamin di otak, memberikan rasa nyaman dan kesenangan. Ketika kadar nikotin menurun, muncul keinginan untuk kembali merokok,” kata Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
“Saat seseorang berhenti merokok, tubuh mengalami gejala sakau seperti sakit kepala, sulit tidur, mudah marah, dan rasa tidak nyaman. Hal ini membuat banyak orang kembali merokok untuk menghindari efek tersebut,” ia menambahkan.
Baca Juga: Perokok Anak Banyak di Indonesia, Kemenkes Ingatkan Bahayanya
Kandungan pada rokok dapat memengaruhi kesuburan pria dan wanita serta meningkatkan risiko komplikasi kehamilan. Selain itu, zat kimia dalam rokok dapat menyebabkan gigi menguning, meningkatkan risiko penyakit gusi, dan menyebabkan bau mulut yang tidak sedap.
Merokok sering kali menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, seperti setelah makan atau saat bersosialisasi. Kebiasaan ini sulit diubah, terutama jika seseorang sudah merokok selama bertahun-tahun.
“Jika seseorang berada di lingkungan yang banyak perokok, godaan untuk kembali merokok semakin besar. Dukungan dari keluarga dan teman sangat penting dalam proses berhenti merokok,” ia menambahkan.
Rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, dan sekitar 70 di antaranya diketahui dapat menyebabkan kanker. Sementara, tar dalam rokok dapat mempersempit saluran udara dan merusak paru-paru, menyebabkan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan emfisema.
“Meskipun sulit, berhenti merokok tetap bisa dilakukan dengan strategi yang tepat, seperti terapi pengganti nikotin, dukungan sosial, dan perubahan gaya hidup. Langkah ini diperlukan demi kesehatan,” pungkasnya.
