ASIAWORLDVIEW – Jumlah perokok aktif di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 70 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 7,4% adalah anak-anak dan remaja berusia 10 hingga 18 tahun. Indonesia juga menempati peringkat kelima sebagai negara dengan persentase perokok tertinggi di dunia, dengan 38,7% dari total populasi merupakan perokok.
Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengakui tren ini menunjukkan bahwa perokok muda semakin meningkat. Kondisi tersebut terjadi terutama karena pemasaran agresif dari industri rokok dan kemudahan akses terhadap produk tembakau.
Dalam kampanye “Gerakan Berhenti Merokok untuk Indonesia Sehat”, Rabu (11/6/2025), ia menjelaskan rokok mengandung berbagai zat beracun yang berbahaya bagi kesehatan. Salah satunya, nikotin. Zat adiktif yang menyebabkan kecanduan dan meningkatkan tekanan darah serta denyut jantung.
Baca Juga: Perokok Anak Banyak di Indonesia, Kemenkes Ingatkan Bahayanya
“Ternyata tak hanya nikotin saja yang berbahaya. Pada satu batang rokok ini, mengandung berbagai zat lain, tar, misalnya, zat karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker paru-paru dan gangguan pernapasan,” ia mengatakan di Jakarta.
Pada rokok juga terdapat amonia, zat yang meningkatkan efek nikotin dan dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Bahkan, benzena, senyawa yang dapat merusak sumsum tulang dan meningkatkan risiko leukemia. Dampak merokok merusak tubuh, tak hanya paru-paru.
“Sulitnya berhenti merokok terutama disebabkan oleh nikotin, zat adiktif yang terdapat dalam tembakau. Nikotin memiliki sifat adiktif yang mirip dengan heroin atau kokain, sehingga tubuh terus menginginkan asupan nikotin,” ia menambahkan.
Rokok juga menimbulkan gejala sakau mirip narkotika dan bahan berbahaya (narkoba). Saat seseorang berhenti merokok, mereka dapat mengalami gejala putus nikotin seperti sakit kepala, mudah marah, sulit tidur, dan gangguan konsentrasi.
“Banyak perokok yang terbiasa merokok dalam situasi tertentu, seperti setelah makan atau saat bersosialisasi, sehingga sulit untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Kalau bangun tidur, yang dicari justru rokok. Saat tidur, kandungan berbahaya zat nikotin itu menjadi sangat rendah. Itu biasanya harus diisi lagi,” pungkasnya.
