ASIAWORLDVIEW – Penderita kanker sebelumnya harus mencari pengobatan ke luar negeri seperti Singapura, Jepang, atau Amerika Serikat. Kini, pengobatan juga tersedia di Indonesia. Pasien tidak hanya mendapatkan terapi yang setara dengan standar internasional, tetapi juga diuntungkan oleh akses yang lebih cepat, biaya yang lebih terjangkau, serta kemudahan koordinasi dengan tim medis lokal. Hal ini membuka harapan baru bagi pasien kanker stadium lanjut yang sebelumnya memiliki pilihan terbatas, sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjadi pusat rujukan pengobatan kanker yang komprehensif dan modern.
Dalam seminar medis bertajuk “Advancing Cancer Care: Peran HIPEC dalam Meningkatkan Survival pada Kanker dengan Keterlibatan Peritoneal” yang digelar di Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. R. Kartiwa Hadi, Sp.OG, Subsp. Onk, memaparkan materi mengenai “CRS-HIPEC pada Kanker Ovarium: Evidence, Indikasi, dan Implementasi Klinis”. Ini merupakan inovasi terapi kanker yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien.
“Pendekatan CRS dan HIPEC merupakan terapi yang bersifat definitif pada kasus kanker dengan keterlibatan peritoneal. Tidak hanya mengangkat tumor yang terlihat, tetapi juga menargetkan sel kanker mikroskopis yang sering menjadi penyebab kekambuhan. Kombinasi efek panas dan konsentrasi obat yang tinggi memungkinkan terapi bekerja lebih optimal di area yang sulit dijangkau oleh kemoterapi konvensional,” ia mengatakan.
Baca Juga: Teknologi AI Tingkatkan Akurasi Diagnosis Kanker di Indonesia
Terapi mutakhir berupa kombinasi Cytoreductive Surgery (CRS) dengan Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy (HIPEC) sebagai solusi komprehensif bagi pasien yang mengalami penyebaran kanker ke rongga perut atau peritoneal carcinomatosis. Pendekatan ini diawali dengan prosedur CRS, yaitu pengangkatan secara teliti seluruh tumor yang terlihat di permukaan perut, dilanjutkan dengan HIPEC, yakni sirkulasi larutan kemoterapi yang dipanaskan (biasanya 41–43°C) langsung ke dalam rongga perut pasien selama sekitar 60–90 menit.
Panas tersebut tidak hanya membunuh sel kanker yang tersisa setelah operasi, tetapi juga meningkatkan penetrasi dan efektivitas obat kemoterapi. Kombinasi ini diakui sebagai salah satu terapi paling canggih di dunia untuk menangani kanker peritoneal yang sebelumnya memiliki pilihan pengobatan sangat terbatas—seperti hanya kemoterapi sistemik dengan respons rendah—sehingga memberikan harapan baru bagi pasien dengan kondisi yang sebelumnya dianggap sulit diobati.
Sebagai dokter spesialis kandungan dan kebidanan subspesialis onkologi, ia menekankan pentingnya prosedur CRS-HIPEC (Cytoreductive Surgery dengan Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy) dalam meningkatkan angka harapan hidup pasien kanker ovarium dengan keterlibatan peritoneal.
Dalam paparannya, dr. Kartiwa menjelaskan bukti ilmiah, indikasi klinis, serta penerapan nyata metode ini di lapangan, yang menunjukkan bahwa kombinasi pendekatan bedah dan terapi intraperitoneal bersuhu tinggi dapat memberikan hasil lebih baik dibandingkan terapi konvensional. Seminar ini menjadi wadah penting bagi tenaga medis untuk memperdalam pemahaman tentang inovasi terapi kanker yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien.
