ASIAWORLDVIEW – Pameran Room Art Fair di 28 Hours, Jakarta, hadir sebagai wadah kreatif yang mempertemukan seniman, kurator, kolektor, dan pecinta seni dalam satu ruang interaktif. Acara ini menampilkan beragam karya seni kontemporer mulai dari lukisan, instalasi, hingga karya multimedia yang mencerminkan dinamika seni modern.
Menurut Maya Sujatmiko, Perwakilan AGSI, dalam konferensi pers Pameran Room Art Fair di 28 Hours, Jakarta, Kamis (16/4/2026, pameran ini bukan hanya sekadar ajang seni, tetapi juga ruang kolaborasi yang mempertemukan seniman, komunitas, dan publik dalam satu wadah kreatif. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap seniman muda agar karya mereka mendapat ruang apresiasi yang lebih luas.
Baca Juga: Ireland’s Eye 2026, Jejak Lanskap Irlandia dalam Seni
“Kehadiran pameran ini menjadi bukti nyata bagaimana seni dapat menjadi medium dialog lintas generasi sekaligus memperkuat ekosistem seni lokal,” ia mengatakan.
Suasana dan atmosfer pameran ini dibua yang inklusif. Acara ini diharapkan memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat perkembangan seni di kawasan.
“Room Art Fair dapat berfungsi sebagai jembatan antara dunia seni kontemporer dengan masyarakat umum,” ia menambahkan.
Karya seni yang dipamerkan di Room Art Fair menampilkan ragam ekspresi kreatif dari seniman lokal maupun internasional. Pameran ini menghadirkan lukisan, instalasi, fotografi, hingga karya multimedia yang mencerminkan perkembangan seni kontemporer dengan tema-tema yang relevan terhadap isu sosial, budaya, dan lingkungan.
Setiap karya tidak hanya menjadi objek visual, tetapi juga medium dialog antara seniman dan pengunjung, sehingga menciptakan pengalaman interaktif yang memperkaya apresiasi seni.
Dengan kurasi yang beragam, Room Art Fair menjadi ruang penting bagi seniman muda untuk menunjukkan potensi mereka sekaligus memperkuat ekosistem seni di Jakarta sebagai pusat kreativitas regional.
