ASIAWORLDVIEW – International Monetary Fund atau IMF menyatakan kekhawatiran atas tingginya harga minyak mentah yang dipicu konflik di Timur Tengah. Hal itu karena lonjakan ini berpotensi mengancam pertumbuhan ekonomi global dan memicu inflasi, terutama di Asia
Hal ini disampaikan saat juru bicara IMF, Julie Kozack, mencatat bahwa konflik Amerika Serikat-Iran telah mengganggu ekspor minyak. Kondisi ini makin parah setelah penutupan Selat Hormuz.
“Setiap kenaikan harga energi sebesar 10%, jika berlangsung selama sekitar satu tahun, dapat mengakibatkan kenaikan inflasi global sebesar 0,40% dan penurunan output sebesar 0,1% hingga 0,2%. Para pedagang kripto saat ini memperkirakan konflik ini akan berlanjut setidaknya hingga Mei. Data Polymarket menunjukkan kemungkinan 43% terjadinya gencatan senjata pada 31 Mei,” ia menjelaskan.
Baca Juga: Harga Minyak Merespons Ketegangan di Timur Tengah, Terus Meningkat
Menurut laporan Reuters, IMF telah memperingatkan bahwa kenaikan harga energi yang berkepanjangan dapat mendorong inflasi semakin tinggi. Selain itu, memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Gangguan jalur pasokan membuat harga WTI naik hingga sekitar USD 98,23 per barel dan Brent mencapai USD 112,19 per barel, mencatat kenaikan lebih dari 50% hanya dalam sebulan. Kenaikan tajam ini menambah tekanan inflasi yang sudah meningkat di Amerika Serikat maupun negara lain, karena biaya energi yang lebih tinggi langsung berdampak pada ongkos produksi, transportasi, dan harga barang konsumsi.
Kondisi ini memperburuk prospek ekonomi global, memicu kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan, serta menambah beban bagi masyarakat dan pelaku usaha yang harus menghadapi biaya hidup dan operasional yang semakin mahal.
