ASIAWORLDVIEW – Setelah banjir, banyak orang sering mengalami rasa gatal pada kulit. Kondisi ini biasanya terjadi karena kontak langsung dengan air banjir yang kotor dan bercampur dengan berbagai kontaminan.
Air banjir tidak hanya mengandung kuman, terkadang berbagai hewan atau serangga juga dapat muncul dari genangan air banjir dan memicu risiko penyakit kulit. Seperti nyamuk, kutu air, dan serangga lainnya. Gigitan mereka dapat menyebabkan benjolan gatal. Namun, umumnya kondisi ini dapat membaik setelah beberapa waktu. Namun, gigitan serangga dapat menyebabkan reaksi alergi.
Selain itu, gigitan serangga yang masih berair dan gatal kemungkinan disebabkan oleh infeksi. Saat Anda menggaruk kulit yang gatal, mungkin terdapat luka yang berpotensi terinfeksi. Jika terinfeksi, luka yang digaruk akan membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh, terasa nyeri, dan bahkan bernanah, mengutip situs resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Baca Juga: Air Banjir Mengandung Penyakit, Begini Cara Lindungi Kulit dari Infeksi
Paparan air banjir yang kotor dapat menyebabkan infeksi kulit pada luka terbuka yang sudah ada. Gejala infeksi dari kondisi ini meliputi kemerahan yang meluas, rasa hangat, nyeri, dan drainase seperti nanah. Pnting untuk memantau semua luka dengan cermat dan segera mencari perawatan jika Anda memperhatikan tanda-tanda ini. Infeksi ini dapat serius atau bahkan fatal.
Bahkan, terdapat ringworm/tinea versicolor biasanya muncul akibat kondisi kotor dan lembap. Itulah mengapa banjir dapat menyebabkan ringworm/tinea versicolor atau memperburuk kondisi kulit yang sudah ada. Anda perlu tahu bahwa jamur penyebab ringworm dapat tumbuh dengan cepat di lingkungan lembap, terutama di antara jari-jari dan lipatan kulit.
Rasa gatal ini merupakan tanda bahwa kulit sedang bereaksi terhadap paparan zat asing atau mikroorganisme. Itulah mengapa setelah banjir, penting untuk segera membersihkan tubuh dengan air bersih dan sabun, mengganti pakaian dengan yang kering, serta menjaga kebersihan lingkungan.
