ASIAWORLDVIEW – Harga emas Antam pada Selasa, (10/3/2026), tercatat mengalami kenaikan sebesar Rp8.000 per gram, dari sebelumnya Rp3.039.000 menjadi Rp3.047.000 per gram. Pergerakan harga ini menunjukkan dinamika pasar emas yang masih sensitif.
Kenaikan harga emas saat ini tidak bisa dilepaskan dari sejumlah faktor global yang saling berkaitan. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian geopolitik, sehingga investor cenderung beralih ke emas sebagai aset aman atau safe haven untuk melindungi nilai investasi mereka.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah sempat menimbulkan kekhawatiran inflasi global, dan emas kembali dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi.
Baca Juga: Harga Emas Secara Global Dinamis, Perak Ikut Menyusul Pergerakan
Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve mendorong pelemahan dolar AS, yang secara historis berbanding terbalik dengan pergerakan harga emas. Ketika dolar melemah, emas menjadi lebih menarik bagi investor internasional karena relatif lebih murah, sehingga permintaan meningkat.
Kenaikan harga emas Antam juga mencerminkan tingginya permintaan masyarakat terhadap logam mulia sebagai instrumen investasi jangka panjang, terutama di tengah volatilitas pasar saham dan kripto.
Harga yang terus bergerak naik, emas tetap menjadi pilihan utama bagi investor konservatif yang mengutamakan stabilitas nilai, sekaligus menjadi indikator penting bagi kesehatan ekonomi domestik.
