Nilai Tukar Rupiah Dekati Rp17.000, Dampak Sentimen Global Tekan Pasar

Uang dollar Amerika Serikat.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat (6/3/2026), tercatat melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.923 per dolar Amerika Serikat (AS). Harganya berubag dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.905 per dolar AS.

Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat, terutama dari pergerakan dolar AS yang stabil dan ekspektasi kebijakan moneter global. Kondisi tersebut membuat rupiah cenderung tertekan di awal perdagangan.

Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan sejak serangan AS terhadap Iran, yang memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Stabil di Tengah Kondisi AS-Iran Memanas

Tekanan eksternal semakin kuat karena ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi dari The Fed, yang memperkuat posisi dolar di pasar global. Akibatnya, rupiah bergerak melemah dan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap dinamika geopolitik dan kebijakan moneter internasional.

Kondisi ini membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke dolar AS serta emas sebagai aset aman, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Namun faktor domestik seperti fundamental ekonomi Indonesia yang relatif solid tetap menjadi penopang agar pelemahan tidak semakin dalam. Pergerakan ini juga menandakan bahwa pasar masih sensitif terhadap dinamika global, khususnya arah kebijakan suku bunga dan ketidakpastian geopolitik.

Bank Indonesia menegaskan bahwa pelemahan ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, sementara fundamental domestik tetap solid dengan proyeksi pertumbuhan dan inflasi yang terkendali.