ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu (25/2/2026), tercatat melemah sebesar 19 poin atau 0,11 persen. Kini menjadi Rp16.848 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.829 per dolar AS.
Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat terhadap mata uang domestik, terutama dari pergerakan dolar AS yang menguat akibat ekspektasi kebijakan suku bunga global dan dinamika pasar keuangan internasional.
Baca Juga: BI: Rupiah Bisa Bertahan, Ekonomi Jadi Kunci Penguatan
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rupiah masih rentan terhadap sentimen global, meskipun faktor fundamental dalam negeri seperti stabilitas ekonomi dan dukungan kebijakan moneter tetap menjadi penopang untuk menjaga keseimbangan nilai tukar.
Sinyal penundaan pemangkasan suku bunga membuat investor global lebih memilih aset berbasis dolar, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Selain itu, ketidakpastian menjelang pidato Presiden AS Donald Trump turut meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar. Kondisi ini memperkuat permintaan terhadap dolar sebagai aset lindung nilai.
Kombinasi faktor tersebut menyebabkan rupiah melemah terhadap dolar AS, mencerminkan kerentanan pasar domestik terhadap dinamika kebijakan moneter dan sentimen global.
