ASIAWORLDVIEW – Menjelang perayaan Valentine, edukasi seks menjadi sangat penting karena momen ini sering dikaitkan dengan kedekatan emosional dan romantis antar pasangan. Edukasi seks yang sehat dan terbuka membantu generasi muda memahami batasan, consent, serta pentingnya menjaga kesehatan reproduksi.
Generasi modern memang memiliki akses informasi yang sangat luas, terutama melalui internet dan media sosial. Namun, ketika membahas edukasi seks, masih banyak yang merasa canggung atau tabu untuk membuka percakapan secara jujur.
Hal itu diungkapkan Sex Educator dr. Haekal Anshari dalam konferensi pers Okamoto Ajak Generasi Modern Rayakan Kedekatan dengan Nyaman dan Bertanggung Jawab di Jakarta, baru-baru ini. Ia menilai pendekatan yang ringan dan menyenangkan memang dibutuhkan agar pesan kesehatan seksual dapat diterima lebih baik oleh generasi modern.
“Generasi modern memiliki akses informasi yang luas. Namun, ketika berbicara mengenai edukasi seks, masih banyak yang merasa canggung untuk membahasnya. Dengan pendekatan yang lebih terbuka, positif, relevan dan tidak menghakimi,” ia mengatakan.
Baca Juga: Olahraga Jadi Terapi Alami untuk Kesehatan Mental
Padahal, pendekatan yang lebih terbuka, positif, relevan, dan tidak menghakimi sangat penting agar informasi yang diterima benar-benar bermanfaat dan tidak menimbulkan stigma. Dengan cara ini, edukasi seks dapat membantu generasi muda memahami tubuh, kesehatan reproduksi, serta hubungan interpersonal dengan lebih sehat dan bertanggung jawab.
“Edukasi seksual dapat membantu memahami pentingnya proteksi dan kenyamanan dalam hubungan, termasuk memandang penggunaan kondom sebagai wujud tanggung jawab dan kepedulian terhadap diri sendiri dan pasangan, bukan sekadar alat kontrasepsi semata,” jelas dr. Haekal.
Sikap inklusif dan komunikatif juga akan mendorong terciptanya ruang aman untuk berdiskusi, sehingga edukasi seks tidak lagi dianggap sebagai hal yang memalukan, melainkan sebagai pengetahuan penting untuk kesejahteraan dan perkembangan diri.
Selain itu, edukasi seks juga berperan dalam mencegah risiko perilaku berisiko, memberikan pemahaman tentang kontrasepsi, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya komunikasi dalam hubungan. Dengan pendekatan yang positif dan relevan, Valentine dapat menjadi momentum untuk menekankan bahwa cinta dan keintiman harus selalu berjalan seiring dengan tanggung jawab dan rasa saling menghormati.
