ASIAWORLDVIEW – Rancangan Undang-Undang CLARITY masih dalam pembahasan di Kongres Amerika Serikat (AS). Sementara pasar prediksi secara tajam meningkatkan ekspektasi akan penutupan pemerintah. Perkembangan ini terjadi setelah komentar dari Presiden Donald Trump dan berlangsung saat RUU CLARITY terus menjalani proses legislatifnya.
Pedagang Polymarket menunjukkan bahwa ada 78% kemungkinan pemerintah AS akan tutup lagi sebelum akhir Januari. Namun, peluang kejadian ini telah melonjak 69% dalam 24 jam terakhir. Lonjakan probabilitas ini terjadi sebagai respons terhadap pembicaraan anggaran yang mandek, yang dapat mempengaruhi kalender legislatif terkait Undang-Undang CLARITY.
Presiden Donald Trump mengatakan AS kemungkinan besar akan mengalami penutupan pemerintah oleh Demokrat lagi dalam wawancara dengan Fox Business. Namun, dalam posting di X, Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer juga memberikan komentar tentang rancangan undang-undang anggaran yang sedang dibahas.
Baca Juga: SEC dan CFTC Siap Jadikan AS Pusat Kripto Dunia
Menurutnya, Senat dari Demokrat tidak akan “memberikan suara untuk melanjutkan” jika rancangan undang-undang tersebut mencakup pendanaan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri. Hal ini merujuk pada syarat-syarat yang ditetapkan untuk melanjutkan rancangan undang-undang tersebut.
Senator tersebut juga mengkritik ketentuan yang berkaitan dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri. Schumer mengatakan bahwa rancangan undang-undang tersebut “sangat tidak memadai” untuk mencegah penyalahgunaan oleh Departemen Imigrasi dan Penegakan Hukum. Schumer menyatakan bahwa ia tidak akan mendukung rancangan undang-undang tersebut jika diajukan untuk voting dalam bentuknya saat ini.
Laporan dari Minneapolis muncul pada Sabtu pagi. Agen federal AS menembak mati seorang pria berusia 37 tahun dalam insiden tersebut. Schumer mengutip kasus tersebut dalam referensinya terhadap DHS.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, kemajuan RUU CLARITY menghadapi penundaan. Penundaan sebelumnya dalam kemajuan RUU CLARITY sebagian besar disebabkan oleh penutupan pemerintah AS pada Oktober dan November. Penutupan tersebut berlangsung selama 43 hari, menjadikannya yang terlama dalam catatan.
Sementara, Alex Thorn, kepala riset Galaxy Digital, mencatat dalam sebuah laporan bahwa ada ketidakpastian terkait imbal hasil stablecoin. Kelompok lobi perbankan di AS berargumen bahwa stablecoin yang memberikan imbal hasil dapat merugikan daya saing perbankan.
