ASIAWORLDVIEW – Serangan drone Ukraina ke wilayah Penza, Rusia bagian barat, pada Jumat (23/1/2026) dini hari menyebabkan kebakaran di sebuah depot minyak. Menurut Gubernur Penza, Oleg Melnichenko, sistem pertahanan udara Rusia berhasil menembak jatuh beberapa drone, namun pecahan drone jatuh ke area fasilitas minyak dan memicu kebakaran. Meski tidak ada korban jiwa, insiden ini menambah ketegangan dalam konflik Rusia-Ukraina dan menyoroti kerentanan infrastruktur energi Rusia terhadap serangan jarak jauh .
Bagi Indonesia, dampak utama tidak bersifat langsung, melainkan melalui jalur harga energi global. Indonesia masih berstatus sebagai net importir minyak. Setiap gangguan pasokan atau ketegangan geopolitik yang memengaruhi Rusia—salah satu eksportir minyak terbesar dunia—berpotensi mendorong harga minyak internasional naik.
Kenaikan harga ini akan meningkatkan biaya impor energi Indonesia, memperbesar tekanan terhadap APBN. Selain itu, berpotensi memicu inflasi domestik.
“Kita masih net importir minyak, jadi ketika harga global naik, biaya impor energi ikut naik. Efek lanjutannya bisa terasa ke ongkos transportasi, logistik, sampai harga barang, yang ujung-ujungnya menekan inflasi dan daya beli,” ujar Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet, Asiaworldview mengutip dari Antara, Sabtu (24/1/2026).
Baca Juga: Venezuela, Iran, dan Rusia: Negara-Negara yang Mengguncang Pasar Minyak Dunia
Ia menekankan bahwa efek jangka panjang dari insiden seperti ini adalah meningkatnya volatilitas harga minyak. Kondisi tersebut berdampak pada harga BBM dan biaya produksi di dalam negeri .
Kebakaran depot minyak Rusia akibat serangan drone kali ini kemungkinan tidak langsung memotong pasokan minyak dunia secara besar. Namun pasar energi sangat sensitif. Ketika terjadi gangguan di negara produsen seperti Rusia, yang bergerak bukan hanya suplai fisik, tetapi juga psikologi pasar.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik akibat konflik Rusia-Ukraina dapat memperburuk sentimen pasar global, memengaruhi nilai tukar rupiah, dan menambah risiko bagi sektor industri yang bergantung pada energi impor.
“Indonesia perlu mengantisipasi dengan memperkuat diversifikasi energi, mempercepat transisi ke energi terbarukan, serta menjaga stabilitas fiskal agar tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga minyak dunia,” ia menambahkan.
