Kasus Cyber Fraud Kian Canggih, Kerugian Penipuan Digital Capai Rp9 Triliun

Hacker

ASIAWORLVIEW – Teknologi makin canggih, membuat kejahatan cyber makin beragam. Bahkan kasus penipuan yang membuat pengguna mengalami kerugian jug banyak terjadi.

Laporan Indonesia Anti-Scam Center (IASC) OJK, kerugian akibat penipuan digital sepanjang November 2024 hingga Desember 2025 mencapai angka yang sangat besar, yakni sekitar Rp9 triliun dengan total 411.055 laporan kasus. Angka ini mencerminkan betapa seriusnya ancaman kejahatan digital terhadap masyarakat dan sistem keuangan nasional.

Lebih mengkhawatirkan lagi, modus penipuan yang digunakan semakin canggih, mulai dari penyalahgunaan identitas, pemalsuan biometrik, hingga manipulasi berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti deepfake. Di tengah tingginya kasus fraud digital tersebut, Privy penyedia layanan identitas digital dan tanda tangan elektronik terdepan di Indonesia, resmi meraih sertifikasi internasional iBeta Certification ISO/IEC 30107-3 Level 2 (Presentation Attack Detection) untuk fitur Liveness Detection demi memperkuat keamanan layanan bagi pengguna.

Nitin Mathur, Chief Operation Officer (COO) Privy mengatakan sertifikasi internasional ini menjadi pengakuan global atas kapabilitas teknologi Privy dalam mendeteksi dan mencegah potensi penipuan dan kecurangan digital tingkat menengah hingga lanjut. Langkah ini menandai peningkatan signifikan dari sertifikasi sebelumnya di Level 1.

Baca Juga: AI Jadi Senjata Baru Hacker, Serangan Siber Kini Lebih Cepat, Cerdas dan Berbahaya

“Sertifikasi ini mencerminkan komitmen Privy dalam memenuhi standar global dan mencegah upaya penipuan digital dengan cara yang semakin beragam. Sebab bagi Privy, keamanan pengguna menjadi prioritas utama. Terlebih, setiap upaya penipuan digital termasuk melalui pemalsuan identitas dan kegagalan verifikasi, dapat berdampak langsung pada kerugian finansial,” sebutnya, dikutip Asiaworldview, Senin (19/1/2026).

Perkembangan teknologi yang pesat ternyata dimanfaatkan oleh pelaku untuk memperdaya korban dengan cara yang semakin sulit dideteksi. Kondisi ini menegaskan perlunya penguatan regulasi, literasi digital, serta sistem keamanan yang lebih adaptif agar masyarakat terlindungi dari kerugian finansial maupun psikologis akibat penipuan digital

“Privy percaya bahwa verifikasi identitas merupakan touchpoint utama dalam melindungi pengguna. Dengan capaian iBeta Certification Level 2, sistem Privy telah lolos pengujian yang lebih kompleks, mencakup variasi metode pemalsuan identitas atau spoofing, dengan durasi pengujian
yang lebih panjang serta skenario serangan yang menyerupai kondisi di lapangan. Ini turut sejalan dengan visi Privy dalam menjadi platform Digital Trust dan Digital Identity dengan teknologi yang andal,” ungkap Nitin.