ASIAWORLDVIEW – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk sementara waktu menangguhkan operasi WorldCoin dan layanan ID dunia. Hal itu terjadi terkait laporan publik tentang aktivitas mencurigakan yang terkait dengan pengumpulan data biometrik.
Tools for Humanity (TFH), perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat di belakang World dan World ID, meluncurkan proyek verifikasi ID digitalnya di Indonesia pada 12 Februari. Inisiatif ini bertujuan untuk membedakan antara manusia dan entitas yang dihasilkan AI dengan memindai iris pengguna.
“Penangguhan ini adalah langkah pencegahan untuk melindungi masyarakat dari potensi risiko,” kata Alexander Sabar, Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital di Kementerian, dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: World Gabungkan Kecanggihan AI dan Blockchain, Pastikan Verifikasi Manusia Asli
Komdigi memanggil dua perusahaan yang terkait dengan layanan, Terang Bulan Abadi dan Sandina Abadi Nusantara, untuk klarifikasi lebih lanjut. Temuan awal mengungkapkan bahwa Terang Bulan Abadi tidak terdaftar sebagai penyedia sistem elektronik, sementara layanan WorldCoin diduga beroperasi di bawah badan hukum yang berbeda, Sandina Abadi Nusantara.
“Kami akan segera memanggil Terang Bulan Abadi untuk penjelasan resmi,” ia menambahkan.
Pennagguhan ini terjadi setelah video viral yang menunjukkan antrian panjang di luar outlet Worldcoin di seluruh Jakarta, termasuk lokasi di Jalan Raya Narogong di Bekasi dan Jalan Raya Margonda di Depok. Warga dilaporkan ditawari cryptocurrency Worldcoin senilai Rp 800.000 dengan imbalan pemindaian retina.
“Kami mendesak publik untuk melaporkan layanan digital yang mencurigakan melalui saluran pengaduan resmi,” tambahnya.
