ASIAWORLDVIEW – Christmas pudding menjadi salah satu ajian khas yang wajib saat perayaan Natal. Sajin ini populer karena merupakan hidangan tradisional yang sarat makna simbolis dan sejarah panjang dalam budaya Inggris serta negara-negara persemakmuran.
Christmas pudding sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kata “pusing” dalam bahasa Indonesia. Nama pudding berasal dari bahasa Inggris kuno poding atau puduc, yang berarti hidangan rebus atau kukus dengan bahan campuran, biasanya manis. Dalam tradisi Inggris, pudding merujuk pada makanan penutup yang padat, kaya buah kering, rempah, dan sering diberi alkohol, bukan makanan bertekstur lembut seperti puding modern di Indonesia. Perbedaan bahasa inilah yang kadang membuat orang Indonesia salah kaprah, mengira “pudding” sama dengan “puding” lokal.
Mengutip History, Christmas pudding awalnya berkembang dari hidangan abad pertengahan bernama frumenty, berupa bubur gandum dengan susu, telur, buah kering, dan rempah. Seiring waktu, resepnya menjadi lebih kaya dengan tambahan lemak hewani, gula, dan minuman beralkohol, sehingga menjadikannya hidangan manis yang khas untuk perayaan Natal.
Baca Juga: Noël Lumière dan Joyful Harmonies untuk Meriahkan Liburan Akhir Tahun
Popularitasnya terus bertahan karena Christmas pudding dianggap sebagai penutup wajib dalam jamuan makan malam Natal di Inggris, dan tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia.
Selain rasanya yang kaya dan hangat, Christmas pudding juga memiliki nilai simbolis: proses pembuatannya sering dilakukan bersama keluarga, dengan tradisi memasukkan koin atau membuat permohonan saat mengaduk adonan.
Hidangan ini melambangkan kebersamaan, keberuntungan, dan semangat perayaan. Teksturnya yang padat dengan buah kering, rempah, dan aroma brandy atau rum membuatnya identik dengan suasana hangat musim dingin. Karena itu, hingga kini Christmas pudding tetap populer sebagai ikon kuliner Natal yang menghadirkan nostalgia, tradisi, dan rasa meriah di meja makan.
