Tradisi Asado dan Kebersamaan Keluarga dengan Kuliner Khas Argentina

SUDESTADA

ASIAWORLDVIEW – Program Natal 2025 di Sudestada dirancang untuk menghadirkan suasana perayaan yang hangat, penuh kebersamaan, dan bernuansa kuliner Argentina. Sudestada, restoran yang dikenal dengan sajian khas Argentina, biasanya mengemas momen Natal dengan menghadirkan menu spesial seperti bife de vacío, empanadas, dan berbagai hidangan panggang yang menjadi tradisi asado.

“Tahun ini telah menjadi perjalanan yang indah bagi kami, penuh dengan pertumbuhan, kreativitas, dan hubungan yang bermakna dengan para tamu kami,” kata Victor Taborda, Chef Eksekutif Sudestada Jakarta.

Untuk Natal 2025, konsep perayaan tidak hanya berfokus pada makanan, tetapi juga pada pengalaman meriah yang menyatukan keluarga dan komunitas, sejalan dengan tema nasional Natal 2025 yang menekankan damai dan kebersamaan. Program ini diperkirakan mencakup dekorasi bernuansa Natal dengan sentuhan Latin, paket makan malam khusus, serta kemungkinan kegiatan sosial seperti berbagi makanan atau dukungan komunitas.

Baca Juga: Halloween’s Day Bernuansa Latin dengan Cita Rasa Argentina

“Saat kami memasuki tahun 2026, kami sangat antusias untuk terus berbagi tradisi Argentina, mulai dari budaya panggang kami hingga penawaran perayaan kami, sambil juga memperluas kehadiran Sudestada melalui konsep baru dan komunitas baru.”

Potongan daging yang mereka gunakan dikenal dalam bahasa Inggris sebagai run cut atau flat meat. Namun, mereka juga mengadopsi istilah khas dari Argentina, yaitu bife de vacío, yang merujuk pada bagian daging sapi yang terletak di sekitar perut dan pinggang. Potongan ini terkenal di Argentina sebagai salah satu pilihan utama untuk hidangan panggang atau asado. Hal itu karena teksturnya yang khas dan cita rasa yang kuat.

“Daging yang digunakan adalah bagian yang sama dengan bife de vacío, sehingga menghadirkan nuansa otentik kuliner Argentina meskipun istilahnya berbeda di berbagai negara,” ia menambahkan.

Selain itu, Sudestada jug menggunakan potongan run cut berasal dari bagian belakang sapi, sedangkan flat meat* diambil dari area sekitar tulang rusuk. Perbedaan asal potongan ini membuat serat daging atau fiber dan teksturnya berbeda.

“Run cut cenderung lebih tebal dan berserat kasar, sementara flat meat memiliki serat yang lebih halus. Jika dibandingkan dengan potongan premium seperti rib eye atau *tenderloin,” pungkasnya.

Teksturnya jelas berbeda, tambahnya, rib eye terkenal dengan marbling lemak yang membuatnya juicy. Sedangkan tenderloin sangat lembut karena minim serat. Sebaliknya, run cut dan flat meat menawarkan pengalaman makan yang lebih bertekstur, dengan distribusi lemak yang tidak merata sehingga menghasilkan rasa khas yang jauh berbeda dari potongan steak klasik.