ASIAWORLDVIEW – Pelemahan tajam harga Bitcoin dan aset kripto lainnya terjadi setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan, sehingga menimbulkan keraguan terhadap rencana pemangkasan suku bunga The Fed. Pasar kripto global saat ini tengah melemah, namun Indonesia tetap menunjukkan ketahanan melalui perilaku investor yang lebih hati-hati dan terukur.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai gejolak pasar global ini juga membawa dampak ke pasar domestik. Ia menjelaskan bahwa pola penurunan volume transaksi yang terjadi di Indonesia masih berkaitan erat dengan dinamika global. Namun, ia menegaskan bahwa pasar Indonesia menunjukkan ketahanan lebih kuat dibanding kondisi global.
“Volatilitas yang terjadi di pasar global memang memengaruhi aktivitas perdagangan di Indonesia. Namun, menariknya adalah meskipun nilai transaksi turun, jumlah pengguna kripto di Indonesia terus meningkat. Ini menunjukkan kepercayaan dan minat masyarakat terhadap aset digital tetap terjaga, bahkan ketika pasar sedang cooling down,” ia mengatakan, dikutip Asiaworldview, Jumat (21/11/2025).
Baca Juga: Pasar Kripto Tertekan, Bitcoin dan Kripto Besar Terseret Sentimen Risk-Off Global
Kondisi ini memicu aksi jual besar-besaran di pasar global, dengan Bitcoin sempat turun ke level terendah dalam enam bulan terakhir. Meski demikian, pasar kripto di Indonesia dinilai lebih stabil karena investor lokal mulai mengadopsi strategi investasi jangka panjang, tidak hanya sekadar berspekulasi.
“Investor Indonesia menunjukkan ketahanan lebih baik dibandingkan pasar internasional. Hal ini didukung oleh meningkatnya literasi finansial, regulasi yang lebih jelas, serta ekosistem perdagangan aset digital yang semakin matang,” ia menambahkan.
Dengan sikap yang lebih bijak, investor Indonesia mampu menjaga stabilitas di tengah gejolak global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar kripto yang resilien di Asia.
