Harga Emas Kembali Menguat di Tengah Dolar AS Melemah

ASIAWORLDVIEW – Harga emas dunia awal pekan ini menguat ke level USD4.008,83 per troy ons, mencerminkan minat pasar yang tinggi terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global. Penguatan harga emas (XAUUSD) pada awal pekan ini didorong oleh kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang memperkuat sentimen bullish. Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve, menyusul melemahnya indikator ekonomi Amerika Serikat.

Pada sesi perdagangan hari Jumat minggu lalu (7/11), emas menguat 0,64% dan ditutup di level USD4.002 setelah sempat terkoreksi ke USD3.974. Kenaikan tersebut berlanjut di sesi Asia pada hari Senin (10/11/2025) dengan harga diperdagangkan di sekitar USD4.050, mencerminkan respon pasar terhadap melemahnya data ketenagakerjaan AS.

Kondisi tersebut menjadi pendorong utama minat investor terhadap logam mulia. Selain itu, pelemahan USD dan kekhawatiran pasar atas penutupan pemerintah AS turut meningkatkan permintaan terhadap aset aman seperti emas.

Baca Juga: Harga Emas Anjlok ke Level Terendah di Tengah Optimisme Dagang AS-China

Menurut analisis pasar, harga emas saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan potensi kenaikan lebih lanjut, terutama jika ketegangan geopolitik dan tekanan ekonomi terus berlanjut. Proyeksi harga emas sepanjang pekan ini diperkirakan akan bergerak dalam rentang USD3.837 hingga USD4.133 per troy ons, dengan level resistance di USD4.063 dan USD4.100.

Pelemahan data ekonomi AS memberi tekanan pada Dolar AS, yang membuat harga emas yang berdenominasi dolarlebih menarik bagi investor global. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,15% ke level 99,55, sementara imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun stabil di sekitar 4,085%. Penurunan imbal hasil obligasi meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan biaya peluang untuk memiliki aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Sentimen konsumen AS juga mengalami kontraksi, dengan indeks Universitas Michigan turun ke 50,3, titik terendah dalam tiga setengah tahun terakhir. Kekhawatiran terhadap melambatnya pertumbuhan ekonomi semakin memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian.