Indonesia Berupaya Ikuti Jejak Malaysia Turunkan Tarif Impor AS

Presiden Prabowo Subianto.(Setkab)

ASIAWORLDVIEW – Presiden Prabowo menyampaikan bahwa pembicaraan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas kerja sama perdagangan bilateral, khususnya untuk komoditas ekspor unggulan Indonesia seperti minyak sawit, kakao, dan karet. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global dan memperkuat hubungan ekonomi antara kedua negara.

“Negosiasi masih berlangsung,” katanya di sela-sela KTT APEC 2025 di Gyeongju, Korea Selatan, dikutip Asiaworldview.com, Minggu (2/11/2025).

Sementara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pembicaraan lebih lanjut dengan AS akan dilanjutkan setelah KTT. Dia menjelaskan bahwa komoditas yang diusulkan untuk tarif nol persen serupa dengan yang disepakati dengan Malaysia, seperti minyak sawit, kakao, karet, dan beberapa barang lain yang tidak diproduksi di AS.

Baca Juga: Bank Indonesia: Ekonomi Global 2025 Melambat, Dampak Tarif AS Kian Terasa

“Mineral kritis dibahas secara terpisah, terkait rantai pasokan,” katanya. “Dalam pernyataan bersama, kami merujuknya sebagai komunitas industri.”

Indonesia tengah berupaya menyusul langkah sukses Malaysia dalam menurunkan tarif impor Amerika Serikat dari 25 persen menjadi 19 persen melalui perjanjian tarif timbal balik yang baru saja ditandatangani oleh Kuala Lumpur dan Washington. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Perdagangan, sedang menjajaki negosiasi serupa untuk memperkuat akses pasar ekspor nasional ke Amerika Serikat, khususnya bagi komoditas unggulan seperti produk agrikultur, tekstil, dan barang manufaktur.

Langkah ini sejalan dengan strategi diplomasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya kerja sama perdagangan yang adil dan saling menguntungkan. Dengan menurunkan hambatan tarif, Indonesia berharap dapat meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global, memperluas diversifikasi ekspor, dan memperkuat hubungan ekonomi bilateral dengan Amerika Serikat.

Kesuksesan Malaysia dalam menurunkan tarif impor AS dari 25 persen menjadi 19 persen berdasarkan perjanjian tarif timbal balik yang baru ditandatangani dengan Washington. Produk utama Malaysia, termasuk minyak sawit, karet, produk kayu, komponen penerbangan, dan farmasi, dibebaskan dari tarif atau diturunkan menjadi nol persen oleh AS.