Harga Emas Dunia Melejit, Ketegangan Global dan USD Lemah Jadi Pemicu Utama

Emas Antam

ASIAWORLDVIEW – Harga emas hari ini, Rab (24/9/2025), melonjak tajam, bertahan di kisaran USD3.750-an, menegaskan sentimen bullish yang kian solid di tengah tekanan pada Dolar Amerika Serikat (AS). XAU/USD naik sekitar 0,73% dan sempat menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di USD3.791, menyusul rilis data ekonomi AS yang melemah dan pernyataan bernada hati-hati dari Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell.

Hal itu karena dipengaruhi oleh beberapa faktor global yang saling berkaitan. Salah satu pemicu utama adalah ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed), yang mendorong investor untuk beralih ke aset safe haven seperti emas. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perang Ukraina turut memperkuat sentimen pasar terhadap logam mulia sebagai pelindung nilai.

Baca Juga: Emas Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Bitcoin Berpotensi Ikuti Jejaknya

Di pasar internasional, harga emas terus mencetak rekor tertinggi, yang kemudian berdampak langsung pada kenaikan harga emas domestik, termasuk emas Antam yang hari ini naik Rp41 ribu per gram menjadi Rp2.164.000. Lonjakan ini juga didorong oleh permintaan tinggi dari bank sentral dan investor global, serta melemahnya nilai tukar dolar AS yang membuat emas lebih menarik sebagai instrumen investasi. Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan momentum kuat bagi kenaikan harga emas, baik di pasar spot maupun dalam bentuk perhiasan dan batangan.

Fundamental makro juga menguatkan sentimen positif. Data Purchasing Managers Index (PMI) AS menunjukkan perlambatan aktivitas bisnis pada September, baik di sektor jasa maupun manufaktur. Angka PMI yang lebih lemah dari perkiraan memberi sinyal potensi pelemahan ekonomi, sehingga mendukung ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar dalam beberapa bulan ke depan.

Dalam pidatonya, Jerome Powell menegaskan bahwa risiko negatif pada ketenagakerjaan telah “menggeser keseimbangan risiko,” yang menjadi salah satu alasan pemangkasan suku bunga minggu lalu. Ia menyebut pemangkasan itu mendorong kebijakan moneter ke arah yang lebih netral, meskipun inflasi masih cenderung tinggi. Powell menilai “efek inflasi akibat tarif akan relatif singkat,” dan menekankan bahwa arah kebijakan bank sentral tetap sangat bergantung pada data.