ASIAWORLDVIEW – GAYA Archive Fashion Installation 2025 resmi dibuka hari ini, Jumat (19/9/2025), merupakan perhelatan mode kontemporer yang menampilkan karya-karya eksperimental dari desainer Indonesia dengan pendekatan artistik dan berkelanjutan. Diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian Fashion Nation di Senayan City, Jakarta, instalasi ini mengusung tema besar yang mengeksplorasi hubungan antara manusia, alam, dan teknologi melalui medium fashion.
Setiap karya yang ditampilkan merupakan hasil kurasi dari Indonesian Fashion Designer Council (IFDC), dengan fokus pada penggunaan material daur ulang, teknik konstruksi inovatif, dan narasi visual yang kuat. Desainer seperti Ivan Gunawan, Eddy Betty, Carmanita, hingga Monica Ivena memamerkan interpretasi kreatif mereka terhadap elemen-elemen seperti air, tanah, dan udara—menggabungkan bahan tak lazim seperti tutup botol, jerami, mika rusak, hingga limbah kopi menjadi busana avant-garde yang memukau.
Instalasi ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni mode, tetapi juga platform edukatif yang mengajak publik untuk memahami pentingnya keberlanjutan dalam industri fashion. Dengan atmosfer galeri yang interaktif dan terbuka untuk umum, GAYA Archive 2025 memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat kreativitas mode yang progresif dan sadar lingkungan.
Baca Juga: Menpar Widiyanti Buka GAYA Archive 2025, Fashion sebagai Gerbang Diplomasi Budaya
Dalam GAYA Archive Fashion Installation 2025, sejumlah desainer ternama Indonesia turut ambil bagian, menampilkan karya eksperimental yang menggabungkan seni, keberlanjutan, dan inovasi material. Eddy Betty memanfaatkan jerami sebagai material utama, berpadu dengan motif floral pink yang menyerap karbon dan merepresentasikan unsur alam. Sementara, Carmanita menghadirkan koleksi dari bahan baku bekas yang hemat waktu dan tenaga dalam proses produksinya.
Monica Ivena menyulap mika rusak menjadi gaun strapless avant-garde dengan gradasi warna yang memanjakan mata. Wilsen Willim menghadirkan karya interaktif dari material perca yang menyerupai kincir angin, simbol harapan yang terus berputar.
Ivan Gunawan juga tampil memukau dengan karya-karya yang merefleksikan kemewahan, warisan budaya, dan keberlanjutan dalam satu narasi visual yang kuat. Ia mengadaptasi elemen-elemen tersebut ke dalam format eksperimental, menggunakan teknik layering dan siluet teatrikal untuk menciptakan pengalaman visual yang immersive. Warna-warna seperti emerald, maroon, ash grey, dan gold mendominasi ruang instalasi, memperkuat kesan elegan sekaligus spiritual. Keterlibatan Ivan Gunawan dalam GAYA Archive tidak hanya menunjukkan kapasitas artistiknya, tetapi juga komitmennya dalam mendorong industri fashion Indonesia menuju arah yang lebih inovatif dan berkelanjutan.
Sebastian Gunawan tampil memukau dengan pendekatan artistik yang menggabungkan kemewahan couture dan eksplorasi material tak lazim. Koleksinya menonjolkan siluet arsitektural dan permainan tekstur yang kompleks, termasuk penggunaan sisa taplak meja sebagai bahan utama untuk menciptakan gaun eksentrik bertema elemen alam seperti air, udara, dan tanaman.
Sementara itu, Hian Tjen menggandeng brand kopi lokal untuk mendaur ulang limbah kopi menjadi payet glamor pada hooded mini dress. Kehadiran para desainer ini memperkuat posisi GAYA Archive sebagai panggung kreatif yang mendorong transformasi industri fashion Indonesia ke arah yang lebih berkelanjutan dan artistik.
