ASIAWORLDVIEW – Tasya Farasya tengah menjadi perbincangan publik karena kabar perceraiannya. Kondisi itu membuat kesehatannya menurun, ia mengalami darah rendah, juga insomnia akut. Tasya Farasya mengalami sejumlah ciri khas insomnia akut yang cukup mengganggu kualitas hidupnya. Ia mengungkap hanya bisa tidur selama 4–5 jam per malam, dan dari durasi tersebut, hanya sekitar 3% yang masuk dalam fase tidur dalam (deep sleep).
Sementara 90% sisanya berupa tidur ringan atau “tidur ayam”. Ia juga sering terbangun di tengah malam, yang membuat tubuhnya tidak mendapatkan pemulihan optimal. Hasil rekaman tidurnya menunjukkan dominasi fase N1 dan N2—kategori tidur ringan—dengan fase N3 (deep sleep) hanya 7,8% dan fase REM yang penting untuk fungsi kognitif hanya 3,5%.
Selain itu, saturasi oksigen Tasya sempat turun hingga 88% saat tidur, jauh di bawah angka normal 98%, dan detak jantungnya mencapai 114 bpm, padahal normalnya berkisar antara 40–60 bpm. Kombinasi gangguan tidur ini menunjukkan bahwa insomnia akut yang dialami Tasya tidak hanya berdampak pada pola istirahat, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan fisik dan mental secara serius.
Dalam unggahan videonya, ia tengah menjalani terapi akibat insomnia akut, sebuah gangguan tidur yang telah mengganggu pola hidup dan aktivitas hariannya. Kondisi ini mencerminkan tekanan fisik dan mental yang mungkin dialaminya.
Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Tidur dengan Membersihkan Diri di Malam Hari
Mengatasi insomnia akut memerlukan pendekatan yang konsisten dan menyeluruh terhadap gaya hidup dan kebiasaan tidur. Salah satu langkah utama adalah menetapkan jadwal tidur yang teratur—bangun dan tidur di waktu yang sama setiap hari untuk membantu tubuh mengenali ritme istirahat alami, mengutip Health, Selasa (16/9/2025).
Hindari konsumsi kafein, nikotin, dan alkohol menjelang malam karena zat-zat tersebut dapat merangsang sistem saraf dan mengganggu proses tidur. Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman dan tenang, seperti mematikan lampu, menjaga suhu ruangan tetap sejuk, serta menjauhkan perangkat elektronik yang memancarkan cahaya biru.
Melakukan rutinitas relaksasi sebelum tidur, seperti mandi air hangat, membaca buku, atau mendengarkan musik lembut, juga dapat membantu menenangkan pikiran dan tubuh. Selain itu, olahraga teratur di pagi atau siang hari terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas tidur, meskipun sebaiknya dihindari menjelang waktu tidur
Jika insomnia berlangsung lebih dari beberapa minggu atau mulai mengganggu aktivitas harian, disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang lebih tepat.
