ASIAWORLDVIEW – Demonstrasi besar-besaran yang terjadi pada akhir Agustus 2025 di berbagai wilayah Indonesia dipicu oleh kematian tragis seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang tewas dilindas kendaraan taktis Brimob saat aksi di Jakarta. Insiden ini memicu gelombang protes dari komunitas ojol, mahasiswa, dan masyarakat sipil yang menuntut pertanggungjawaban aparat serta reformasi institusi Polri.
Aksi unjuk rasa berlangsung di sejumlah titik strategis seperti Mako Brimob Kwitang, Polda Metro Jaya, dan Gedung DPR RI, serta meluas ke kota-kota lain seperti Bandung, Surakarta, Makassar, dan Surabaya. Demonstrasi yang awalnya damai berubah menjadi ricuh, dengan bentrokan antara massa dan aparat, pembakaran fasilitas umum, serta gangguan lalu lintas yang melumpuhkan aktivitas warga.
Selain tuntutan atas kasus Affan, demonstrasi juga membawa isu-isu sosial seperti upah buruh, penghapusan outsourcing, dan reformasi pajak. Aksi ini mencerminkan keresahan publik terhadap ketidakadilan dan represivitas aparat, serta menjadi momentum solidaritas lintas kelompok masyarakat.
Baca Juga: Rupiah Terpuruk Hari Ini: Efek The Fed, Geopolitik, dan Kebijakan Utang
Akibatnya, nilai tukar rupiah melemah tajam hingga menyentuh Rp16.499 per dolar AS. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hingga turun 2,3%, ditutup di zona merah selama beberapa hari berturut-turut, menandakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko sistemik
Aktivitas bisnis terganggu, dengan beberapa kantor cabang perbankan seperti BNI terpaksa tutup sementara demi keamanan.
Distribusi barang dan mobilitas masyarakat terhambat akibat kemacetan parah dan pengalihan jalur transportasi. Investor asing mulai menarik modal, memicu capital flight senilai lebih dari USD2 miliar.
Ketegangan sosial ini juga menurunkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional, memperbesar risiko inflasi dan memperlemah daya beli masyarakat. Pemerintah pun menghadapi tekanan untuk segera merespons dengan kebijakan yang menenangkan pasar dan publik.
