ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin mengalami tekanan signifikan hari ini, turun sekitar 2% dan diperdagangkan di kisaran USD110.000 atau sekitar Rp1,79 miliar. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan ekonomi global, terutama setelah Presiden AS Donald Trump memecat Gubernur Federal Reserve Lisa Cook.
Langkah kontroversial tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral AS, yang berdampak langsung pada sentimen pasar kripto. Selain itu, aksi jual besar-besaran oleh whale lama—pemegang Bitcoin jangka panjang—juga memperburuk tekanan harga, dengan likuidasi posisi long mencapai ratusan juta dolar. Analis memperingatkan bahwa jika Bitcoin gagal mempertahankan level support kritis, koreksi harga yang lebih dalam bisa terjadi dalam beberapa minggu ke depan.
Merespon kondisi tersebut, Fahmi Almuttaqin, Analyst Reku menilai situasi ini mengindikasikan meningkatnya kehati-hatian investor, menjelang rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Index AS bulan Juli 2025 akhir pekan ini. Data inflasi ini menjadi sorotan karena merupakan indikator inflasi acuan Federal Reserve (The Fed), yang akan sangat menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.
“Pasar kripto saat ini tengah berada pada mode menunggu (wait and see). Inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi bisa menjadi katalis kuat untuk reli baru, dengan target jangka
pendek di kisaran USD120.000 atau jika terjadi breakout dari All-Time-High sebelumnya, terdapat potensi lonjakan hingga USD136.000,” ia mengatakan.
Baca Juga: China dan Uni Emirat Arab Susul AS, Negara Pemilik Bitcoin Terbanyak di Dunia
Penurunan tajam ini menambah tekanan setelah reli yang sempat membawa Bitcoin ke level harga tertingginya di atas USD123.000 14 Agustus lalu. Kemudian, harga Ethereum merosot lebih tajam dan diperdagangkan di area USD4.400 setelah mencetak rekor harga tertinggi baru melampaui level
USD5.000 di beberapa bursa perdagangan pada 25 Agustus.
Di sisi lain, pasar saham AS relatif stabil namun juga penuh kewaspadaan. Indeks S&P 500 ditutup di USD 6.439,32 turun 0,43%. Dow Jones melemah 0,77% ke USD 45282,47. Sementara Nasdaq terkoreksi tipis 0,22% berkat dorongan saham big tech.
“Terlepas dari rilis data PCE kali ini menjadi ujian penting yang menentukan arah jangka pendek Bitcoin, tren pelonggaran kebijakan ekonomi cepat atau lambat akan terjadi yang dapat mengalirkan likuiditas pada skala yang lebih besar ke pasar kripto,” ia menambahkan.
Namun, jika data PCE justru menunjukkan tekanan inflasi masih tinggi, Bitcoin berpotensi terkoreksi lebih dalam ke zona support USD100.000 hingga 103.000, yang kini dianggap sebagai benteng bawah selanjutnya pasca tertembusnya level USD112.000.
“Perkiraan probabilitas pemangkasan sejauh ini masih bertahan di atas 85% menurut CME FedWatch. Bahkan, lembaga keuangan Jefferies baru saja menaikkan target akhir tahun
S&P 500 menjadi 6.600 poin, mencerminkan keyakinan terhadap fundamental laba korporasi yang solid. Namun, bayang-bayang potensi kenaikan inflasi yang lebih tinggi dari
perkiraan masih membayangi,” kata Fahmi.
