ASIAWORLDVIEW – Film MERAH PUTIH: ONE FOR ALL terus menuai kecaman dari publik sejak trailer-nya dirilis menjelang perayaan HUT RI ke-80. Kritik datang dari berbagai arah, mulai dari kualitas animasi yang dinilai kaku dan tidak sepadan dengan standar industri saat ini, hingga proses produksi yang disebut terlalu singkat dan terburu-buru. Beberapa warganet bahkan menyoroti penggunaan aset visual yang dibeli dari platform digital seperti Daz3D, yang dianggap mengurangi nilai orisinalitas dan nuansa lokal dalam film tersebut.
Baca Juga: Budget Rp6,7 Miliar, Hasil Akhir Film MERAH PUTIH: ONE FOR ALL Gagal Penuhi Harapan Netizen
Sutradara Hanung Bramantyo turut menyampaikan kritik pedas, mempertanyakan bagaimana film ini bisa mendapatkan slot tayang di bioskop di tengah antrean panjang film nasional lainnya. Ia juga menyinggung kualitas teknis yang menurutnya belum matang.
“Terus kenapa harus buru-buru tayang? Ironisnya kok bisa dapat tanggal tayang di tengah 200 judul film Indonesia ngantre tayang?” tulisnya di akun media sosial.
Ia juga menyoroti kualitas teknis film yang dinilai belum matang, serta anggaran produksi yang menurutnya terlalu kecil untuk menghasilkan karya animasi berkualitas.
“Rp 7 miliar untuk film animasi, potong pajak 13 persen kisaran Rp 6 miliar. Kalau toh tidak dikorupsi, hasilnya tetap jelek!” sebut sang sutradara lagi.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa standar produksi film animasi yang layak tayang di bioskop seharusnya memiliki anggaran minimal Rp30 miliar, ditambah Rp10 miliar untuk promosi, dan dikerjakan dalam waktu lima tahun. Ia juga mengusulkan agar penayangan film ditunda agar para kreator memiliki waktu untuk menyempurnakan karya tersebut.
“Fadli Zon dan Giring, bapak-bapak mohon ditunda penayangannya, dan dibantu menyelesaikan hingga menghasilkan karya yang bagus,” tulisnya.
Hanung bahkan menuding bahwa proyek ini dipaksakan tayang pada 17 Agustus demi mengejar momentum agar bisa ditonton oleh pejabat kementerian yang masih menjabat.
“Maksain harus tayang 17 Agustus karena ngasih proyek ngejar moment ditonton pejabat kementerian yang masih bertugas. Kalo belain kualitas, keburu si pejabat turun.”
Kritik Hanung Bramantyo ini menjadi sorotan publik dan memperkuat diskusi tentang pentingnya kualitas dan proses kreatif yang matang dalam produksi film animasi nasional, terutama yang mengusung tema kebangsaan.
