Cuci Mata, Bukan Dompet: BPS Ungkap Fenomena Rojali yang Viral di TikTok

Pemandangan Kota Jakarta dari udara.(Unsplash.com)

ASIAWORLDVIEW Rojali dan Rohana lagi viral banget di media sosial dan jadi bahan obrolan di mal-mal seluruh Indonesia. Rohana punya beberapa versi kepanjangan, seperti “Rombongan Hanya Nanya-nanya”, “Rombongan Hanya Nongkrong”, atau “Rombongan Hanya Narsis” — intinya, mereka juga tidak belanja, tapi aktif secara sosial dan digital.

Fenomena ini muncul karena banyak orang datang ke mal untuk hiburan murah di tengah tekanan ekonomi, bukan untuk belanja. Istilah ini jadi populer di TikTok dan meme karena lucu tapi juga menyindir gaya hidup “nongkrong tapi irit”.

Badan Pusat Statistik (BPS) ikut menyoroti fenomena ini. Meski mal tampak ramai, omzet toko-toko bisa tetap rendah karena pengunjungnya hanya “cuci mata”.

Pengelola mal mulai cari cara kreatif untuk mengubah keramaian jadi transaksi, seperti photo booth berbayar atau promo khusus pembeli.

Baca Juga: K Mall at Menara Jakarta, Urban Oasis di Jantung Kemayoran

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, mengatakan, “Bisa jadi untuk menyegarkan diri, atau karena ada tekanan ekonomi, terutama bagi mereka yang (dianggap) berada di kelas rentan; sehingga mereka pergi mengunjungi mal tanpa membeli apa pun dan sebagainya,” jelasnya.

Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional 2025, konsumsi kelas atas mulai menurun. Namun, karena kecenderungan ini terbatas pada beberapa kelompok, hal itu belum memengaruhi dinamika kemiskinan. Hartono mengatakan bahwa fenomena rojali dapat menjadi sinyal bagi para pembuat kebijakan untuk juga memperhatikan daya beli dan stabilitas ekonomi kelas menengah ke bawah, selain mengurangi kemiskinan.

“Perlu dikaji, apakah fenomena rojali ini hanya (terbatas) pada kelas atas, menengah, rentan, atau bahkan masyarakat miskin. Kita belum survei rojali,” pungkasnya.