ASIAWORLDVIEW – Cadangan devisa Indonesia turun menjadi USD152,5 miliar pada akhir April 2025, turun USD4,6 miliar dari USD157,1 miliar pada Maret, Bank Indonesia (BI) mengumumkan pada hari Kamis (8/5/2025).
“Penurunan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Bank Indonesia dalam menanggapi meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam siaran pers.
Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, 8 Mei 2025. Rupiah tercatat turun 30 poin atau 0,18% ke posisi Rp 16.566 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25% hingga 4,5%, yang mendorong penguatan dolar AS. Selain itu, ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menjadi faktor yang diperhatikan oleh pasar.
Baca Juga: Faktor Penyebab Nilai Tukar Rupiah Melemah: Tembus Rp17.000
Meskipun tertekan, BI mempertahankan cadangan negara tetap kuat. Hingga April, cadangan devisa tersebut cukup untuk menutupi 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas ambang kecukupan internasional sekitar tiga bulan.
“Cadangan devisa masih memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi serta sistem keuangan,” kata Denny.
BI memproyeksikan cadangan devisa akan tetap berada pada level yang aman, didukung oleh prospek ekspor yang stabil, proyeksi surplus pada neraca modal dan finansial, serta sentimen positif investor terhadap prospek ekonomi dan imbal hasil investasi Indonesia.
“BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk meningkatkan ketahanan eksternal dan menjaga stabilitas ekonomi guna mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkas Denny.
