ASIAWORLDVIEW – Gangguan bipolar dan skizofrenia merupakan dua kondisi mental kronis yang dapat mengganggu fungsi berpikir, emosi, dan perilaku seseorang secara signifikan. Tanpa penanganan medis dan psikososial yang tepat, keduanya berisiko menyebabkan kekambuhan berulang, penurunan kualitas hidup, bahkan komplikasi serius seperti isolasi sosial, kehilangan produktivitas, dan kecenderungan bunuh diri.
Pengobatan medis seperti antipsikotik dan mood stabilizer berperan penting dalam menyeimbangkan kimia otak yang terganggu, sementara terapi psikososial—termasuk psikoterapi, dukungan keluarga, dan rehabilitasi—membantu pasien memahami kondisi mereka, membangun strategi coping, dan kembali berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.
dr. Ashwin Kandouw, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa menyatakan, “Skizofrenia merupakan gangguan mental berat, bersifat kronis dan mempengaruhi pikiran perasaan dan perilaku penderita. Gangguan pikiran pada penderita bisa berupa kekacauan proses pikir yang terlihat melalui cara bicara yang kacau, bisa juga terganggunya isi pikir yang tampak sebagai waham yaitu keyakinan yang salah dan tidak sesuai dengan realita yang ada, tetapi diyakini oleh penderita.
Penyakit mental ini sifatnya yang kambuhan dan progresif, setiap episode yang tidak ditangani dapat menyebabkan kerusakan sel otak yang tidak dapat diperbaiki, sehingga memperburuk prognosis jangka panjang. Oleh karena itu, intervensi dini dan berkelanjutan sangat penting untuk mencegah perburukan, menjaga stabilitas emosional, dan memungkinkan penderita menjalani hidup yang lebih sehat dan bermakna.
Baca Juga: Deteksi Dini Skizofrenia pada Anak dan Remaja, Potensi Hidup Normal Terbuka Lebar
Gangguan perasaan bisa berupa penumpulan emosi atau bahkan mood yang kacau. Gangguan perilaku biasanya berupa perilaku yang kacau, bahkan bisa agresif. Sering juga ada gangguan persepsi panca indera berupa halusinasi, yaitu adanya persepsi panca indera (pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, rabaan) tanpa ada sumber rangsangnya.
“Sedangkan GB merupakan gangguan mood atau suasana perasaan. “Bi” artinya dua dan “polar” artinya kutub. Jadi penderita bipolar akan mengalami mood yang berubah-ubah secara ekstrim dari kutub manik ke kutub depresi dan juga sebaliknya. Beberapa gejala yang muncul pada fase manik seperti rasa gembira dan rasa percaya diri yang berlebihan, banyak sekali ide yang datang secara bersamaan, merasakan peningkatan tenaga dan semangat yang berlebihan,” ia menambahkan.
Pada fase depresi, gejalanya berupa rasa sedih yang berlebihan dan sulit dikendalikan, kehilangan kesenangan dari hobby yang biasanya menyenangkan, terjadinya penurunan tenaga dan konsentrasi, perubahan nafsu makan, gangguan tidur, menurunnya keinginan sosialisasi dan kepercayaan diri, kesulitan mengambil keputusan, kecenderungan melukai diri sendiri bahkan ingin mengakhiri hidup.
Penatalaksanaan Skizofrenia dan GB sebaiknya bersifat komprehensif. Yang paling utama yaitu memperbaiki kekacauan kimia otak melalui pengobatan, serta melibatkan orang terdekat dari penderita untuk mendukung penderita berobat dengan baik dan teratur. Hal yang perlu diperhatikan yaitu melibatkan pemerintah dalam penyediaan skema pengobatan termasuk pembiayaanya agar bersifat berkesinambungan. Selain itu juga dalam penyediaan lapangan kerja yang sesuai dengan kapasitas penderita.
