ASIAWORLDVIEW – Deteksi dini skizofrenia pada anak dan remaja sangat penting karena gejalanya sering kali sulit dibedakan dari perilaku normal pada usia tersebut. Skizofrenia pada anak-anak dan remaja dapat muncul dengan tanda-tanda yang bisa dikenali.
Dr. dr. Khamelia Malik, SpKJ(K), Psikiater FKUI-RSCM menjelaskan, gejala skizofrenia sudah bisa dikenali dari awal. Misalnya, halusinasi berupa mendengar suara atau melihat sesuatu yang tidak nyata.
“Perhatikan, anak atau remaja Anda mengalami delusi, keyakinan terhadap sesuatu yang tidak nyata dan menetap. Atau mendadak menjadi tidak semangat untuk melakukan sesuatu. Bahkan, menarik diri dari keluarga dan teman. Ini yang harus diperhatikan,” ia mengatakan.
Skizofrenia pada anak di bawah usia 13 tahun sangat jarang terjadi, tetapi risikonya meningkat pada usia remaja. Faktor risiko meliputi genetik, lingkungan, dan perkembangan otak.
“Jika Anda mencurigai adanya tanda-tanda skizofrenia pada anak atau remaja, segera konsultasikan dengan profesional kesehatan mental untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Apalagi jika dikenali ejak dini,” ia menambahkan.
Baca Juga: Pakar: Bisa Melihat Makhluk Gaib, Ciri Delusi pada Pasien Skizofrenia
Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ (K), Guru Besar Psikiatri, Subspesialis Anak dan Remaja FKUI-RSCM menambahkan, dukungan keluarga dan lingkungan juga sangat penting dalam membantu mereka menjalani kehidupan yang lebih baik. Pengobatan skizofrenia pada anak dan remaja memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk terapi medis dan dukungan psikososial.
Anak dengan skizofrenia sering kali mengalami kesulitan dalam interaksi sosial dan pendidikan, sehingga perlu dukungan khusus. Keluarga berperan penting dalam memastikan kepatuhan terhadap pengobatan dan memberikan lingkungan yang stabil.
Salah satu pendekatan yang efektif untuk membantu anak dan remaja dengan skizofrenia, terapi Kognitif-Perilaku (CBT), memahami serta mengelola gejalanya. Menurut penelitian, terapi ini dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengontrol pikiran negatif dan mengurangi gejala skizofrenia. Selain itu, terapi ini juga membantu pasien memahami kondisi mereka dan mengembangkan mekanisme adaptasi yang lebih sehat.
“Meningkatkan keterampilan sosial agar anak lebih mampu berinteraksi dengan lingkungan. Juga mengajarkan strategi koping untuk menghadapi halusinasi atau delusi dengan lebih baik,” Tjhin Wiguna menambahkan.
