ASIAWORLDVIEW – Kementerian Pariwisata telah meminta para pengelola destinasi wisata berisiko tinggi untuk secara ketat menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) di destinasi wisata ekstrem. Langkah ini diambil menyusul insiden tragis yang menimpa wisatawan asal Brasil di Gunung Rinjani.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan bahwa kepatuhan terhadap SOP bukan sekadar formalitas, melainkan benteng utama dalam mencegah insiden fatal Ini sebagai tanggapan terhadap kecelakaan tragis yang melibatkan Marins, wisatawan Brasil berusia 27 tahun ini ditemukan pada 24 Juni 2025.
Menurut siaran pers, insiden tersebut menjadi pengingat bahwa setiap tujuan wisata ekstrem membawa risiko serius. Ia menekankan perlunya penegakan SOP yang komprehensif untuk pariwisata berisiko tinggi guna mencegah tragedi serupa di masa depan.
“Kami ingin menegaskan kembali kewajiban untuk mematuhi SOP yang ada dengan ketat.” Kepatuhan terhadap prosedur-prosedur ini bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan langkah pencegahan terhadap insiden fatal,” ujarnya.
Baca Juga: Manfaatkan Krisis Iran-Israel, Indonesia Incar Wisatawan Asia dan Australia untuk Berkunjung
SOP untuk pendakian Gunung Rinjani diatur dalam Keputusan Nomor 19 Tahun 2022 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Taman Nasional Gunung Rinjani.
Kementerian Pariwisata, bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait, sedang berupaya memastikan bahwa SOP keselamatan dan keamanan diterapkan dengan baik di destinasi wisata berisiko tinggi.
Selain menyerukan penegakan SOP, kementerian mendesak para pengelola situs wisata berisiko tinggi untuk memantau dan mengaudit semua operator dan pemandu yang bekerja di daerah tersebut untuk memastikan mereka memenuhi semua persyaratan.
“Pemandu wisata dan porter yang beroperasi di destinasi ekstrem seperti Gunung Rinjani harus menjalani pelatihan tentang langkah-langkah keselamatan, prosedur evakuasi darurat, dan komunikasi krisis,” ia menambahkan.
