BPS Catat Surplus Perdagangan Indonesia Alami Penurunan Tajam

Kegiatan ekspor dan impor di pelabuhan.(Kemenkeu)

ASIAWORLDVIEW – Surplus perdagangan Indonesia pada April 2025 mengalami penurunan tajam menjadi USD160 juta, jauh lebih kecil dibandingkan USD4,33 miliar pada Maret 2025. Meskipun demikian, Indonesia tetap mencatat surplus selama 60 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan surplus April tersebut ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar USD1,51 miliar, terutama didorong oleh ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani dan nabati, serta besi dan baja. Sementara itu, sektor migas membukukan defisit USd1,35 miliar, sebagian besar disebabkan oleh peningkatan impor minyak mentah dan produk minyak bumi olahan.

“Neraca perdagangan barang mencatat surplus USD160 juta. Ini berarti Indonesia telah mempertahankan surplus perdagangan selama 60 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Pudji saat jumpa pers di kantor pusat BPS di Jakarta.

Baca Juga: Indeks Menabung Konsumen Turun pada Mei 2025: Masyarakat Pilih Bayar Kebutuhan hingga Utang

Penurunan ini terutama disebabkan oleh lonjakan impor sebesar 21,84%, sementara ekspor hanya tumbuh 5,76% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor nonmigas masih menjadi penyumbang utama surplus dengan nilai USD1,51 miliar, sedangkan sektor migas mengalami defisit sebesar USD1,35 miliar.

Ekspor Indonesia pada April mencapai USD20,74 miliar, tumbuh 5,76 persen secara tahunan. Namun, impor melonjak menjadi USD20,59 miliar, menandai peningkatan 21,84 persen dari April 2024.

Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar USD11,07 miliar dari Januari hingga April 2025, sepenuhnya didukung oleh surplus USD11,26 miliar di sektor nonmigas. Sebaliknya, perdagangan migas mencatat defisit USD16,95 miliar selama periode yang sama. Amerika Serikat, India, dan Filipina merupakan kontributor teratas surplus perdagangan Indonesia.