ASIAWORLDVIEW – Citi Indonesia mencatatkan laba bersih sebesar Rp645,3 miliar pada triwulan I 2025, mengalami penurunan 3,09% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun demikian, bank ini tetap menunjukkan kinerja positif dengan pendapatan bunga bersih meningkat 11% secara year-on-year dan rasio dana murah (CASA) stabil di 74%.
Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman menjelaskan, Senin (26/5/2025), Citi Indonesia berhasil menekan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross dari 3,4% menjadi 0,2%, menunjukkan perbaikan signifikan dalam manajemen risiko kredit. Selain itu, rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) tetap kuat di **340% dan 159%, jauh di atas ketentuan minimum.
“Prospek ekonomi ke depan masih menghadapi tantangan dari ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar, tetapi Citi Indonesia tetap optimis dengan strategi bisnisnya yang berfokus pada penguatan layanan perbankan digital, ekspansi kredit, dan peningkatan efisiensi operasional,” katanya dalam pemaparan Prospek Ekonomi ke depan beserta Kinerja Keuangan Citi Indonesia Triwulan I-2025.
Baca Juga: Citi Indonesia Menunjukkan Kinerja yang Kuat di Tengah Penurunan Suku Bunga
Ia juga menjelaskan, Amerika Serikat memiliki fleksibilitas dalam tarif dan negosiasi tarif. Selain itu, perkiraan akan turun untuk negara-negara lain. Tarif sektoral yang diterapkan oleh Amerika Serikat tetap tinggi, terutama untuk industri tertentu seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik. Pemerintah AS telah menetapkan tiga skema tarif utama, yaitu tarif dasar baru, tarif resiprokal, dan tarif sektoral, yang berdampak pada negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia.
Amerika Serikat sedang melakukan negosiasi tarif dengan berbagai negara, termasuk Indonesia, dalam upaya menyesuaikan kebijakan perdagangan mereka. Meskipun ada fleksibilitas dalam beberapa aspek tarif, tarif sektoral tetap tinggi, terutama untuk industri strategis seperti semikonduktor dan logam dasar. Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan reshoring, yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat rantai pasokan domestik.
“AS juga berusaha meningkatkan produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku industri. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat daya saing manufaktur dan menciptakan lapangan kerja baru,” ia menambahkan.
Untuk Indonesia, beberapa produk terkena tarif hingga 30%, sementara tarif resiprokal yang akan berlaku dalam beberapa bulan ke depan bisa mencapai 32%. Hal ini membuat daya saing produk ekspor Indonesia di pasar AS menjadi lebih menantang dibandingkan negara-negara lain di Asia.
Pemerintah Indonesia saat ini sedang melakukan negosiasi dalam 60 hari ke depan. Hal ini untuk menyesuaikan kebijakan perdagangan dengan AS dan mencari solusi terbaik bagi industri ekspor.
