ASIAWORLDVIEW – Amerika Serikat telah resmi memberlakukan kebijakan tarif resiprokal terhadap barang impor dari negara-negara dengan defisit perdagangan signifikan terhadap AS. Kebijakan ini bertujuan untuk menyeimbangkan neraca perdagangan dan melindungi industri domestik AS.
Namun menimbulkan ketidakpastian di pasar global, khususnya bagi pemerintah serta pelaku industri terkait. Kondisi ini berdampak pada penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini oleh International Monetary Fund (IMF), yang merevisi angka menjadi hanya 2,8%. Penurunan tersebut terutama didorong oleh revisi penurunan proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) hampir di seluruh negara.
Thammasak Sethaudom, President and CEO SCG, menyampaikan, “Perang dagang memberikan tekanan secara global, namun peluang di balik tantangan tersebut masih tetap ada. Contohnya termasuk tren penurunan harga minyak dunia serta daya beli yang tetap kuat di pasar tertentu untuk produk High Value-Added (HVA), produk ramah lingkungan, dan produk berkualitas dengan harga terjangkau.”
Baca Juga: China Khawatir Dampak Trump Tariff terhadap Ekonomi Global
Tarif tambahan dikenakan pada produk dari negara-negara yang memiliki defisit perdagangan besar dengan AS, termasuk beberapa negara di Asia Tenggara seperti Vietnam dan Kamboja. Kebijakan ini meningkatkan ketidakpastian ekonomi global dan berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia
Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak kebijakan tarif resiprokal dari AS, dengan tarif sebesar 32 persen yang dikenakan pada produk impor Indonesia, yang kemudian ditangguhkan oleh Pemerintah Amerika Serikat selama 90 hari pada 9 April 2025 untuk memberikan waktu lebih bagi proses negosiasi.
Hingga saat ini, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat masih berada dalam proses negosiasi, yang ditargetkan untuk mencapai titik temu sebelum masa penangguhan 90 hari tersebut berakhir.
Kebijakan ini telah memicu berbagai reaksi dari negara-negara yang terdampak, termasuk Indonesia, yang sedang berupaya mengurangi dampak negatifnya melalui diplomasi ekonomi dan strategi diversifikasi pasar.
