ASIAWORLDVIEW – Industri ritel menghadapi tantangan besar di tengah pasar yang terus berkembang, terutama dengan meningkatnya eCommerce dan perubahan perilaku konsumen. Aoalagi di tengah ancaman Trump Tariff, menganggu perekonomian di Indonesia.
Ketua Umum HIPPINDO Budihardjo Iduansjah menjelaskan perkembangan ritel di Indonesia. Menurutnya, peritel di Indonesia sudah menjadi bagian perekonomian di Indonesia puluhan tahun silam.
“Asosiasi Matahari Supplier’s Club (AMSC) merupakan komunitas pemasok yang tergabung dalam Matahari Group, didirikan pada tahun 1986 oleh Hari Darmawan. Ini merupakan kelompok pertama di Indonesia,” ia menyebutkan.
AMSC “Kebersamaan Menuju Kemitraan yang Handal”, yang mencerminkan komitmen untuk membina kemitraan yang kuat antara para pemasok dan divisi merchandising Matahari. Asosiasi ini dibuat untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi antara Grup Matahari dan para pemasoknya.
Baca Juga: Pahami Kebutuhan Milenial dan Gen Z, Pasar Penting bagi Industri Ritel di Indonesia
“Mengembangkan sumber daya pemasok sejalan dengan pertumbuhan Matahari dan program pemerintah untuk mendukung industri lokal. Selain itu, membangun jaringan dan berbagi informasi di antara para anggota. Seperti kondisi saat ini, kita bisa menghadapi bersama,” ia menambahkan.
Asosiasi ini telah diakui oleh MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai asosiasi pemasok pertama di Indonesia dan telah menerima penghargaan atas keterlibatan aktifnya dalam berbagai kegiatan.
Ia juga menjelaskan mengenai adaptasi teknologi yang diperlukan bagi peritel. Apalagi di tengah gencaran teknologi, termasuk eCommerce. Tak lupa, memberikan pengalaman berbelanja yang berbeda.
Industri ritel di Indonesia telah mengalami perkembangan yang pesat, sebutnya, terutama dalam beberapa dekade terakhir. Pandemi COVID-19 mempercepat peralihan ke belanja daring.
“Fokus pada menciptakan pengalaman belanja yang unik dan personal, seperti layanan kustomisasi produk atau event di toko fisik dan online,” jelasnya.
Ia juga berpesan peritel di Indonesia juga banyak menggandeng Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dengan cara itu, produk lokal juga bisa bersinar, menciptakan “Belanja di Indonesia Aja”.
“Bekerja sama dengan UMKM lokal. Dengan strategi ini, ritel dapat tetap relevan dan kompetitif di pasar yang terus berubah,” pungkasnya.
