Harga Emas Tunjukkan Tren Bullish

Emas ANTAM.

ASIAWORLDVIEW – Harga emas (XAU/USD) terus menunjukkan tren bullish dan mendekati batas atas kisaran mingguan. Bias jual terhadap Dolar AS (USD) tetap dominan, didorong oleh meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga beberapa kali pada tahun 2025. Kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi AS turut menekan USD, yang kini berada di level terendah multi-bulan. Kondisi ini menjadi faktor utama yang mendukung kenaikan harga emas sebagai aset safe-haven.

Analisa teknikal dari Andy Nugraha, analis Dupoin Indonesia, menunjukkan bahwa kombinasi candlestick dan indikator Moving Average saat ini mengindikasikan tren bullish yang masih kuat pada XAU/USD. Proyeksi hari ini menunjukkan potensi kenaikan emas hingga level USD2.929. Namun, jika harga mengalami pembalikan (reversal), penurunan dapat mencapai USD2.893 sebagai target terdekat.

Baca Juga: Harga Emas Alami Tekanan akibat Kebijakan Tarif AS

Ketidakpastian global dan kebijakan perdagangan yang agresif dari Presiden AS Donald Trump menjadi faktor pendorong permintaan emas. Trump baru-baru ini mengeluarkan perintah eksekutif yang mengecualikan barang dari Kanada dan Meksiko di bawah Perjanjian USMCA, hanya dua hari setelah menerapkan tarif baru. Namun, Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menegaskan bahwa tarif 25% pada impor baja dan aluminium yang dijadwalkan berlaku mulai Rabu kemungkinan besar tidak akan ditunda.

Selain itu, pelemahan di sektor tenaga kerja AS turut mendukung pergerakan bullish emas. Data Nonfarm Payrolls (NFP) AS pada bulan Februari hanya meningkat sebesar 151.000, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 160.000. Selain itu, angka NFP bulan Januari direvisi turun menjadi 125.000 dari 143.000 sebelumnya. Tingkat pengangguran juga meningkat menjadi 4,1% dari sebelumnya 4,0%.

Kondisi pasar tenaga kerja yang melemah semakin memperkuat keyakinan bahwa The Fed akan melonggarkan kebijakan moneternya untuk mencegah perlambatan ekonomi lebih lanjut. Hal ini memberikan tekanan tambahan terhadap USD dan mendukung harga emas, mengingat logam mulia ini berdenominasi dalam Dolar AS.