ASIAWORLDVIEW – Grup Lazarus adalah kelompok peretas terkenal yang diyakini terkait dengan pemerintah Korea Utara. Mereka dikenal karena keterlibatannya dalam berbagai serangan siber dan kejahatan siber terkenal, termasuk peretasan Sony Pictures pada tahun 2014 dan pencurian Bank Bangladesh pada tahun 2016.
Baru-baru ini, mereka terlibat dalam pencurian mata uang kripto berskala besar, seperti peretasan pertukaran kripto Bybit senilai USD1,4 miliar. Pembobolan tersebut mengguncang industri kripto.
Dengan teknik phishing tingkat lanjut dan eksploitasi sistem keamanan, mereka mencuri sekitar USD1,4 miliar dalam ETH. Dana ini kemudian dicuci melalui crypto mixers dan cross-chain swaps untuk menghilangkan jejak transaksi.
Baca Juga: Peretasan Bybit Berdampak pada Harga Bitcoin?
Serangan Lazarus Group menyebabkan kerugian miliaran dolar dan menurunkan tingkat kepercayaan terhadap keamanan platform kripto. Laporan dari PBB mengungkapkan bahwa hasil peretasan digunakan untuk mendanai program nuklir Korea Utara, yang semakin meningkatkan ketegangan geopolitik global.
Namun ternyata itu bukan yang terparah yang dilakukan oleh Lazarus.
Salah satu kasus hacker Lazarus Group terbesar terjadi pada 2022 ketika mereka meretas Ronin Network, jaringan yang digunakan oleh game Axie Infinity. Dalam serangan ini, mereka mencuri lebih dari USD600 juta dalam bentuk ETH dan USDC. Serangan ini mengguncang dunia kripto dan menyoroti kelemahan dalam keamanan blockchain.
Dengan teknik peretasan yang terus berkembang, Lazarus Group membuktikan bahwa dunia siber masih memiliki tantangan besar. Para pelaku industri kripto harus terus meningkatkan sistem keamanan mereka jika ingin menghindari serangan di masa depan.
