ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin yang telah melampaui USD100.000, banyak investor yang kini merasa khawatir ketinggalan momentum (FOMO). Apakah ini artinya mereka sudah terlambat untuk berinvestasi? Beberapa menyarankan untuk membeli Bitcoin saat harga sedang mengalami penurunan atau stagnasi, sementara yang lain berpendapat bahwa meskipun harga saat ini tinggi, Bitcoin tetap menawarkan potensi keuntungan besar dalam jangka panjang.
Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, melihat tren harga BTC jangka pendek akan bergantung pada data arus ETF BTC-spot AS. Nominasi yang pro-kripto dapat membuka jalan bagi BTC untuk menjadi aset cadangan strategis AS.
“Memang, banyak yang merasa terintimidasi melihat harga yang sudah tinggi, tapi bagi investor jangka panjang, Bitcoin masih memberikan peluang,” ujar Fyqieh. “Apakah harganya sudah terlalu tinggi? Itu tergantung pada pandangan investor terhadap perkembangan masa depan kripto. Jika investor percaya pada teknologi blockchain dan potensi adopsi kripto global, saat ini mungkin masih menjadi waktu yang baik untuk berinvestasi.”
Baca Juga: Hacker Paling Berbahaya di Dunia Maya Curi USD1 Miliar dalam Bentuk Kripto
Beberapa perkiraan menunjukkan bahwa harga Bitcoin bisa mencapai US$200.000 pada akhir 2025, sementara ada yang lebih optimis memproyeksikan harga BTC akan melampaui US$1 juta pada tahun 2030. Salah satu alasan di balik proyeksi kenaikan ini adalah adopsi Bitcoin yang semakin meluas, baik di kalangan investor institusional maupun regulasi yang mendukung ekosistem kripto.
“Ketika kita melihat Bitcoin menembus level harga US$100.000, ini menunjukkan bahwa Bitcoin telah mencapai tahap penting dalam perjalanan menjadi aset yang lebih diterima secara luas. Dengan meningkatnya adopsi institusional, Bitcoin semakin dianggap sebagai aset yang sah dan stabil,” kata Fyqieh. Ia menambahkan bahwa meskipun ada fluktuasi harga dalam jangka pendek, tren jangka panjang Bitcoin tetap optimis.
